Bromo dan Rinjani adalah Kekayaan

S. Sinansari ecip

Dua gunung berapi raksasa ada di Jawa Timur dan Lombok. Keduanya menarik perhatian pelancong, baik yang profesional sebagai pendaki pecinta alam atau pengunjung amatiran. Dulu, keduanya gunung besar di zaman purba meletus dengan dahsyat. Bagian atasnya terpenggal, menyebar ke sekitarnya dan entah ke mana. Sisa penggalan itulah yang disebut kaldera.

Kaldera dapat diibaratkan sebuah kuali tempat kita menggoreng sesuatu. Tepi kuali itu tepi kaldera. Di tengah, di dasar kuali ada minyak dan pisang atau ubi yang digoreng. Minyak goreng dapat diibaratkan sebagai laut pasir di Bromo atau Segara Anak di Rinjani. Di bagian pinggir Laut Pasir (5.300 ha) ada kawah Bromo (+2300 m), di pinggir Segara Anak (1.100 ha) ada gunung kecil berikut kawah Barujari. Di kaldera Rinjani juga ada kawah Rombongan.

Dalam Kaldera Tengger, selain ada kawah Bromo juga ada gunung Batok  yang tidak berkawah. Jika kita masuk ke kaldera dari Penanjakan (2.780 m), yang tampak lebih dulu adalah gunung Batok. Sebaliknya, jika kita masuk kaldera dari arah Sukapura, yang tampak duluan adalah kawah Bromo. Semua orang yang menyaksikan kaldera keduanya akan takjub pada Sang Pencipta. Jika ada tanda-tanda akan meletus maka yang menjadi lingkaran pertama bahayanya ada di dalam kaldera.

Kompleks Tengger memang menjadi obyek wisata unggulan Jatim. Di bagian selatan agak jauh, berdiri dengan anggunnya gunung Semeru. Kompleks Tengger lebih mudah dicapai, bahkan kendaraan bermotor bisa disewa sampai menyeberangi Laut Pasir. Sebagian orang menyewa kuda. Hotel-hotel sudah berdiri di luar kaldera. Di luar kaldera itu orang bercocok tanam untuk dataran tinggi, yaitu sayur mayur dan buah-buahan. Limpahan material ketika kawah murka menjadi tanah subur untuk pertanian. Kegiatan ekonomi masyarakat berjalan dengan baik.

Konon masyarakat suku Tengger adalah bagian penduduk Majapahit yang mengungsi, selain yang ke Bali. Agamanya Hindu. Sebelum tahun 70-an, terutama pada hari raya Kesodo, para pendatang boleh singgah ke rumah-rumah penduduk yang pintunya terbuka untuk siapa saja. Para tamu boleh tidur dengan bebas di dalamnya dan makan apa saja yang tersedia di atas meja, tanpa minta izin. Tanpa minta izin pula ketika mereka meninggalkan rumah. Sekarang sudah komersial. Jika kita mau tidur dan makan, ya bayar.

Kompleks Rinjani belum komersial. Untuk mencapainya orang harus jalan kaki sekitar delapan jam. Belum banyak orang bercocok tanam. Belum ada orang berlalu lalang dalam kegiatan pariwisata. Lombok harus mempersiapkan diri sebagai tempat kunjungan wisata, apalagi Lombok sudah ditetapkan sebagai obyek wisata syariah. Pantai Senggigi sudah lama siap fasilitasnya. Itu harus diteruskan sampai ke Kaldera Rinjani.

Penduduk Lombok sebagian besar muslim. Sebagian kebudayaannya dipengaruhi oleh Bali. Berkunjung ke Lombok akan mendapatkan dua hal, yaitu Bali dan Lombok. Datanglah dulu ke Lombok baru kemudian ke Bali atau menengok binatang purba komodo.

Gunung-gunung berapi memang menarik ditonton. Pada jarak tertentu bahkan ketika meletus pun layak ditonton. Aktivitas ekonomi, terutama di Rinjani harus disiapkan pula fasilitasnya. Masyarakat harus digerakkan. Berkah alam yang dianugerahkan harus dimanfaatkan, jangan sampai mubazir.

Gunung Tambora yang meletus pada 200 tahun yang lalu adalah gunung purba lain, di Flores. Letusannya dahsyat sampai ke mana-mana seperti gunung Krakatau. Tapi hasil penelitian di Antartika, ada bukti bahwa letusan Tambora kalah dahsyat dengan letusan gunung raksasa Rinjani yang bernama lain Samalus.

Danau Toba adalah danau terbesar di Asia Tenggara, disebut sebagai danau vulkanik. Artinya, danau ini terbentuk dari gunung berapi raksasa. Luas danaunya 100 x 30 km. Meletus pada 75 ribu tahun yang lalu. Yang belum kita ketahui dari rahasia Danau Toba adalah kawah berapinya ada di mana. Adakah ciri vulkasiknya masih aktif? Rekam jejak letusannya tidak terjadi dalam abad-abad baru hingga kemungkinan meletusnya kurang dapat dideteksi. (**)

Advertisement