PALESTINA (KBK) – Amnesty International telah menemukan bukti bahwa pasukan Israel secara dramatis telah meningkatkan penggunaan amunisi terhadap Palestina sejak 1 Oktober. Lebih dari 85 warga Palestina telah tewas hingga hari ini.
Demikian laporan lembaga pengamat Hak Azazi Manusia yang berkedudukan di Inggris ini, menanggapi upaya yang dilakukan Israel dalam menghadapi demo para pemuda Palestina.
Dalam laman The Electronic Intifada, Senin (30/11/2015), dijelaskan, Amnesty telah mendokumentasikan sejumlah kasus di mana para pemuda Palestina tewas oleh pasukan Israel, sementara mereka tidak menghadirkan ancaman bagi kehidupan pasukan Israel tersebut.
“Ini adalah pembunuhan di luar hukum,” tulis Amnesty.
Selain itu, kata Amnesty, Polisi Israel menolak memberi izin untuk autopsi jenazah Pemuda Palestina yang dibunuh oleh petugas.
Pada tanggal 17 Oktober 2015 misalnya, Mutaz Uweisat tewas oleh polisi Israel di Armon Hanatziv, sebuah pemukiman Israel di Yerusalem Timur.
Polisi Israel menuduh bahwa anak 16 tahun ini mencoba untuk menusuk penjaga perbatasan.
Kelompok hak asasi manusia Palestina menyerukan penyelidikan terhadap petugas yang melakukan pembunuhan itu.
Dalam permintaan yang diajukan awal bulan ini, dua Pasukan Polisi yang dituduhkan melakukan pembunuhan; Pasukan Adalah dan Pasukan Addameer.
Kelompok HAM juga meminta agar autopsi dilakukan di hadapan petugas medis yang disetujui oleh keluarga Uweisat.
Lima hari setelah pengajuan permintaan autopsi itu, Pasukan Adalah mengeluarkan pernyataan bahwa polisi menolak untuk melakukan otopsi dan pengadilan Israel di Yerusalem juga menolak.
Dan jasad Mutaz belum kunjung dikembalikan ke keluarganya. Selain Mutaz masih banyak tubuh banyak warga Palestina lainnya yang tewas oleh pasukan Israel juga belum dikembalikan.
Penolakan Israel untuk memungkinkan penyelidikan atas insiden membuat akun yang mustahil untuk memverifikasi. Sejumlah tuduhan baru lainnya yang dibuat oleh otoritas Israel.





