MARAWI – Kelompok teroris Maute bersembunyi di dua masjid tua bersejarah di Marawi City untuk memprovokasi serangan udara dari militer.
Gubernur Gubernur Wilayah Otonomi Muslim Mindanao (ARMM) Mujiv Hataman mengatakan bahwa dua masjid tua dan bersejarah di kota tersebut dijadikan tempat penampungan oleh keluarga Maute.
Perwira ARMM Zia Alonto Adiong mengatakan bahwa orang-orang bersenjata Maute memprovokasi militer untuk membom masjid tersebut guna memicu kecaman Islam dan simpati atas perjuangan mereka.
“Kita tidak boleh lupa bahwa mereka menyerang dan merusak Gereja St. Mary di Kota Marawi yang menyebabkan gesekan antara orang Kristen dan Muslim. Kami berterima kasih kepada komunitas Kristen Mindanao karena tidak menanggapi cara teroris tersebut yang sebenarnya ingin mereka bereaksi, “kata Hataman.
“Para teroris benar-benar ingin militer membom masjid untuk mendapatkan simpati dan agar kalangan Muslim moderat marah. Mereka ingin menciptakan kesan bahwa ada penganiayaan terhadap umat Islam di Mindanao. Nah, tidak ada, “tambahnya, seprti dilansir Philipine star, Kamis (15/6/2017).
Kepala Angkatan Bersenjata Kantor Urusan Publik Filipina Kolonel Edgard Arevalo mengatakan bahwa militer memiliki pilihan lain untuk mengusir militan dari tempat persembunyian mereka namun tidak untuk membom masjid atau tempat ibadah lainnya.
Dengan terowongan bom-bom, senjata anti-tank yang disembunyikan di masjid, perisai manusia dan penguasaan medan, gerilyawan Maute bersembunyi di Kota Marawi membuktikan lawan yang jauh lebih tangguh daripada yang diharapkan militer.
Militer mengakui bahwa militan memiliki keuntungan dalam penguasaan medan dan lingkungan mereka.
Militan memiliki sudut pandang untuk mengamati dari mana pasukan pemerintah berasal dan di mana mereka berlindung. Militan Maute memiliki penembak jitu dan posisi mereka di masjid sangat dipertahankan.





