SANKSI ekonomi yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB terhadap Korea Utara akhir pekan lalu diharapkan bisa menghentikan petualangan negara garda komunis terakhir itu melakukan ujicoba nuklir dan rudal-rudal antar benua.
Pemerintah rezim Kim Jong Un selalu bergeming atas seruan international dan sanksi yang dijatuhkan DK PBB, tetap meneruskan ujicoba nuklir dan rudal balistik dengan alasan hal itu diperlukan untuk mempertahankan kedaulatannya dari ancaman luar.
Amerika Serikat yang merasa terancam karena rudal-rudal yang dikembangkan Korut secara teoritis bisa menjangkau wilayahnya, mulai kehilangan kesabaran dan sedang menimbang-nimbang untung-ruginya untuk mengambil opsi terakhir untuk menyerang Korut.
Di dalam resolusi terbarunya, DK PBB mengenakan larangan bagi Korut untuk mengekspor komoditas batubara, besi, biji besi, timah dan biji timah serta hasil laut dari negara itu.
Selain itu, negara-negara lain tidak diperkenankan melakukan perjanjian kerjasama atau menanamkan investasi baru di Korut  serta memasukkan tenaga kerja baru dari Korut.
Pengenaan sanksi baru DK PBB diharapkan paling tidak membuat Korut kehilangan kesempatan meraup devisa sekitar satu milyar dollar AS per tahun, dan pada gilirannya, mereduksi kemampuannya membiayai program nuklir dan ujicoba rudal.
Jika Korut tetap nekat meneruskan programnya di tengah melemahnya kondisi keuangan negara, tentu akan berakibat fatal bagi stabilitas politik di dalam negerinya karena dana yang terbatas itu diperlukan untuk pembangunan sektor-sektor lainnya, khususnya pertanian dan pangan.
Yang menggembirakan, konco-konco tradisional Korut di DK PBB yakni Rusia dan China yang biasanya menolak setiap resolusi badan dunia itu terhadap Korut, kali ini berada dalam satu kubu bersama AS.
Secara diplomatis Menlu China Wang Yi mengemukakan, sanksi DK PBB (sebenarnya-red) bukan lah respons yang tepat dan tujuan akhir bagi solusi krisis nuklir dan ujicoba rudal, selain hanya untuk mendorong agar Korut bersedia berunding , “ kilahnya.
Korut bagi China, selain tetangga, juga konco erat di era Perang Dingin dan juga berada satu front, bahu-membahu melawan Korsel dan pasukan koalisi pimpinan AS pada Perang Korea (1950 – 1953).
Walau belum teruji atau pernah digunakan dalam perang sesungguhnya (combat proven) , rudal balistik antarbenua (Inter Continental Balistic Missile -ICBM) Hwasong -14 yang diluncurkan Korut , Juli lalu (28/7) membuat ketar-ketir Amerika Serikat.
Hwasong-14, rudal kedua yang diujicoba sepanjang 2017 mencapai jarak 732 Km sebelum tercebur di Laut Jepang, sehingga diperkirakan jika disetel di ketinggian normal, secara teoritis bisa mencapai 10.400 Km atau menjangkau sejumlah kota-kota besar di AS.
Dunia menanti reaksi Korut selanjutnya, di tengah signal menggembirakan, mulai adanya kompromi antara AS dengan China dan Rusia untuk bersama-sama mencari solusi permasalahan dunia. (AFP/Reuters/NS)





