BEKASI – Sebagian dari enam warga Kota Bekasi, Jawa Barat yang menjadi korban penipuan biro perjalanan umroh First Travel saat ini mengalami depresi dan jatuh sakit.
Salah satu korban, Maryanah (51) mengatakan jika keluarganya yang tertipu ada enam orang. “Mereka sekarang mengalami stres karena uang yang sudah disetorkan tidak ada kejelasan,” katanya, Minggu (20/8/2017), dilansir Antara.
Warga RT03 RW19 Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondokgede itu mengaku baru menyadari telah menjadi korban penipuan saat kabar tersebut ramai disampaikan media massa. Dirinya mengaku kerap mengalami depresi bila mendengar ada pemberitaan terkait First Travel lewat siaran televisi yang belakangan ini rutin tersiar hampir setiap hari.
“Saya beruntung punya anak yang baik, setiap kali saya stress, ada putra saya yang selalu memberi nasihat untuk bersabar,” katanya.
Hal tersebut dibenarkan putra Maryanah, Suhendi (33) yang mengatakan mayoritas keluarganya yang terkena tipu saat ini mulai menunjukkan gelagat yang kurang wajar.
“Ada keluarga saya bernama Bu Anah yang stres dan sempat guling-gulingan sambil menangis histeris di jalan saat tahu dirinya menjadi korban penipuan First Travel,” katanya, dilansir Antara.
Namun sang ibu, kata dia, hanya menampakkan gejala depresi yang ditunjukkan dengan menurunnya nafsu makan serta melamun dalam kondisi tertentu.
“Mereka depresi karena uangnya boleh ngumpulin sedikit-sedikit. Rata-rata mereka warga berpenghasilan menengah ke bawah dan sekarang sudah menyetor ke First Travel rata-rata Rp18 juta,” katanya.
Bahkan keenam anggota keluarganya telah melakukan “ratiban” sebagai acara syukuran atas rencana keberangkatan untuk umroh ke Tanah Suci sejak awal Januari 2017, namun sampai Agustus 2017 belum ada kejelasan pemberangkatan.
Tak hanya itu, korban lainnya warga RT04 RW09 Kelurahan Jatimakmur, Kecamatan Pondokgede, Kunut (75), mengaku mulai mengalami permasalahan kesehatan yang mengakibatkan penurunan stamina.
Kunut menyetorkan dana total Rp32 juta hasil dari arisan yang harus dikumpulkannya setiap bulan, untuk keberangkatan umroh bersama sang istri ke Tanah Suci.
Kini ia hanya bisa berharap uangnya dikembalikan secara utuh, “Kami cuma ingin uangnya dikembalikan saja utuh untuk keperluan lain,” harapnya.





