MYANMAR – Aung San Suu Kyi akhirnya angkat bicara pada mengatakan Rabu (6/9/2017) terkait kekerasan Rohingya, setelah PBB memerintahkan pemerintahnya untuk menghentikan kekerasan yang telah memaksa 125.000 orang untuk melarikan diri ke Bangladesh.
Namun dalam komentar publik pertamanya sejak penyergapan bulan lalu, dia mengatakan simpati untuk Rohingya dihasilkan oleh kesalahan informasi yang mmenciptakan banyak menimbulkan masalah di antara komunitas yang berbeda dan dengan tujuan untuk mempromosikan kepentingan para teroris.
Komentar Suu Kyi dibuat dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh kantornya, sebagaimana dilansir AFP, setelah menerima telepon dari Presiden Recep Tayyip Erdogan yang sangat kritis terhadap perlakuan Myanmar terhadap Rohingya, yang menyebutnya sebagai “genosida”.
Pemerintah Suu Kyi telah menghadapi kecaman internasional yang meningkat atas penanganan tentara terhadap krisis pengungsi.
Tapi Suu Kyi membela tindakan pemerintahnya mengatakan bahwa pemerintahannya “membela semua orang” di negara bagian Rakhine.
Rohingya Myanmar adalah minoritas tanpa kewarganegaraan terbesar di dunia dan telah hidup di bawah pembatasan apartheid seperti pada gerakan dan kewarganegaraan mereka selama bertahun-tahun.
Mereka sebagian besar menghindari kekerasan namun pada bulan Oktober sebuah kelompok militan baru yang disebut Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) meluncurkan serangkaian penyergapan mematikan pada polisi di perbatasan yang memicu tindakan keras yang dipimpin tentara.
Lebih dari 200.000 orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak Oktober, termasuk 125.000 dalam dua minggu terakhir.





