SAKING seringnya ancam-mengancam antara pihak-pihak yang berseteru dan berulang kalinya Korea Utara melakukan ujicoba rudal balistik justeru membuat mayoritas warga Korea Selatan “kebal” terhadap ancaman perang.
Hasil survei Gallup Korea yang dipublikasikan Jumat lalu (8/9) menyebutkan, 58 persen responden warga Korsel merasa tidak khawatir akan pecah perang di Semenanjung Korea dan hanya 37 persen yang memperkirakan, Korut akan memulai perang.
Pandangan tersebut berbeda saat dilakukan survei sama pada 2007 yang menyebutkan mayoritas responden (51 persen) meyakini perang akan pecah antara dua negara serumpun itu dan para pendukungnya, dan hanya 45 persen yang tidak cemas hal itu akan terjadi.
Tidak ada yang bisa memastikan, apakah perang Korea seperti terjadi pada 1950 – 1953 yang memakan korban nyawa ratusan ribu orang itu akan terulang lagi karena sewaktu-waktu situasi bisa saja berubah drastis.
Presiden AS Donald Trump yang negaranya adalah pelindung utama Korsel mengingatkan, tindakan militer tidak akan diambil jika opsi-opsi lain masih terbuka (misalnya dengan dialog atau pengenaan sanksi ekonomi-red).
Namun jika, cara militer terpaksa digunakan, itu merupakan hari yang menyedihkan bagi Korut, “ katanya mengancam.
Yang juga menggembirakan, perubahan sikap China yang pada Perang Korea lalu ikut menerjunkan pasukannya untuk mendukung Korut, kini dalam kubu yang sama dengan AS dan negara-negara lainnya, mendukung sanksi DK PBB terhadap Korut.
China yang wilayahnya berbatasan dengan Korut agaknya juga khawatir, jika Korut hancur akibat peperangan, penduduknya akan membanjiri wilayahnya sehingga akan menjadi beban ekonomi dan mengganggu stabilitas politik.
Hanya Rusia, salah satu konco dekat Korut lainnya yang masih menganggap perlunya mengedepankan upaya dialog, karena sanksi atau aksi kekerasan tidak akan mampu mengubah sikap Korut. Rusia juga masih memasok kebutuhan minyak bagi Korut.
Saat ini DK PBB tengah menyiapkan sanksi baru terhadap Korut mulai dari larangan ekspor minyak bumi ke Korut dan mengimpor tekstil dari Korut, merekrut tenaga kerja dari negara itu sampai mencegah petinggi Korut bepergian.
Sabelumnya DK PBB Juli lalu juga mengenakan sanksi larangan bagi sejumlah komoditas ekpor Korut seperti bijih besi dan batubara senilai satu milyar dollar AS dan pembatasan rekrutmen bagi tenaga kerja Korut di luar negeri.
Sejauh ini Korut bergeming, bahkan selama 2017 telah melakukan 14 kali ujicoba peluncuran rudal balistik dan mengancam akan menyerang pangkalan AS di Guam, bahkan bahkan pekan lalu mengklaim berhasil melakukan ujicoba bom nuklir.
Perang…. tidak….perang…..tidak, tidak ada yang bisa memastikan.
(AP/AFP/Reuters/NS)





