Manusia dikaruniai Tuhan empat nafsu: luwamah, amarah, sufiah dan mutmainah. Ke empatnya adalah teman yang menyertai hidup manusia, sejak masih berupa janin. Karena empat nafsu itu, manusia berkembang biak, demikian pula kebudayaan dan peradaban. Nafsu tidak perlu dihilangkan sama sekali, tapi perlu dikendalikan. Jika lepas kendali, akibatnya adalah kebinasaan dan kebiadaban manusia.
Dari empat nafsu itu, amarah paling sulit dikendalikan. Kisah “Haryo Penangsang Gugur” dalam kethoprak (sandiwara tradisional Jawa) bisa menjadi rujukan. Lakon ini melibatkan Sunan Kudus, seorang wali, yang nama aslinya Jafar Shodiq, guru spiritual Penangsang.
Nafsu luamah berhubungan dengan keinginan makan dan minum atau urusan mulut dan perut. Ini paling mudah dikendalikan dengan puasa dan bertapa. Amarah adalah nafsu yang membuat manusia ingin menang sendiri. Cirinya: gampang tersinggung, mudah marah, brangasan (agresif) dan haus kekuasaan. Jika tidak dikendalikan, yang muncul adalah keserakahan.
Puasa bisa mengurangi amarah dengan asumsi jika konsumsi karbohidrat dan protein berkurang, maka energi untuk marah pun menyusut. Sufiah adalah nafsu terhadap keindahan dan kecantikan, termasuk urusan bawah perut (syahwat). Ini bisa juga dikendalikan melalui puasa dan bertapa.
Mutmainah adalah nafsu untuk berbuat kebaikan. Puasa dan bertapa dapat memperkuat mutmainah.
Kembali ke lakon “Haryo Penangsang”. Ada yang menyebut Aryo atau Arya Penangsang. Alkisah, Penangsang adalah adipati penguasa wilayah Jipang-Panolan, sekarang di daerah Cepu, Jawa Tengah. Sang Adipati terkenal berdarah panas. Ia merasa berhak atas tahta Kerajaaan Demak, kerajaan Islam pertama di Jawa setelah runtuhnya Majapahit.
Ayahnya, putera Sultan Tranggono (raja Demak) dibunuh oleh kerabat keraton di sebuah sungai. Karena itu, sang ayah digelari Pangeran “Sedo Lepen” (gugur di sungai). Penangsang menuntut balas dengan membunuh Sunan Prawoto, saudara kandung ayahnya, calon raja Demak, menggantikan Tranggono.
Istri Prawoto, Ratu Kalinyamat, menuntut balas kematian suaminya. Ia mengadakan sayembara: siapa yang bisa membunuh Penangsang akan diganjar wilayah Pati.Untuk mendukung niatnya, Kalinyamat konon bertapa telanjang, tubuhnya hanya ditutupi rambutnya yang terurai panjang.
Penangsang berguru kepada Sunan Kudus bersama Joko Tingkir atau Mas Karebet, menantu Sultan Tranggono, yang menjadi Adipati Pajang. Daerah ini terletak di Kartasura, saat ini bernama Surakarta, ia bergelar Hadiwijaya. Penangsang ingin membunuh Hadiwijaya, karena dianggap pesaing .
Penangsang mengutus dua prajurit pilihan untuk membunuh Hadiwijaya. Utusan berhasil masuk kamar tidur Hadiwijaya, tapi ia tidak mempan ditusuk keris. Penangsang marah dan mengadu ke Sunan Kudus, minta petunjuk cara membunuh Hadiwijaya. Oleh Sang Guru, Penangsang diminta berpuasa 40 hari dan tidak boleh marah. Ia sanggupi permintaan itu.
Penasehat Hadiwijaya, Ki Gede Pamanahan, menyarankan agar diadakan sayembara siapa yang berhasil membunuh Penangsang akan diganjar bumi Mentaok (kemudian menjadi Pusat Kerajaan Mataram, Yogyakata sekarang) dan Pati. Sutawijaya, anak Pemanahan, yang juga anak angkat Hadiwijaya, diajukan sebagai jago.
Tahu Penangsang penaik darah, ia dipancing dengan tantangan perang. Surat tantangan itu digantungkan di kuping tukang rumputnya, setelah dipotong. Penangsang yang sedang berpesta seuai berpuasa, naik pitam mendapat laporan tukang rumputnya yang berdarah-darah.
Mengabaikan anjuran untuk tidak terprovokasi, Penangsang menaiki kuda jantannya, Gagak Rimang, menyambut penantangnya. Sutawijaya naik kuda betina untuk merangsang kuda Penangsang. Gagak Rimang terkena birahi, sulit dikendalikan. Penangsang menyeberang sungai, mengabaikan larangan. Akibat dikuasai amarah, Penangsang lengah dan terrbunuh.



