JENEWA – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mengatakan bahwa kerawanan pangan sedang meningkat dan Afrika adalah benua yang paling terkena dampaknya.
Guterres berbicara pada sebuah acara tingkat tinggi yang diselenggarakan sehari sebelum Majelis Tinggi Kepala Negara dan Pemerintahan Afrika ke-30.
“Afrika mengambil persentase tertinggi dari kelaparan global,” kata Guterres pada sebuah pertemuan pejabat tingkat tinggi dan pakar pertanian.
Menurut Guterres, ada kaitan antara konflik dan kerawanan pangan. “Kami membutuhkan pendekatan masyarakat yang mempromosikan kohesi sosial,” katanya, menambahkan bahwa menjamin kesetaraan jender merupakan salah satu sarana penting untuk memastikan keamanan pangan.
“Perempuan merupakan 63 persen dari satuan tugas pertanian,” katanya dalam pembenaran bagaimana kesetaraan jender dapat memperbaiki situasi keamanan pangan.
Afrika, menurut dia, memiliki lebih banyak yang harus dilakukan untuk menjamin keamanan pangan.
Guterres mengatakan bahwa hanya 5 persen negara di Afrika yang memenuhi target yang ditetapkan oleh Program Pengembangan Pertanian Afrika Komprehensif (CAADP) – salah satu program unggulan Agenda 2063 di Afrika.
Agenda Afrika 2063 adalah cetak biru sosio-ekonomi dan politik yang bertujuan menciptakan benua yang damai dan sejahtera.
Pada bulan September 2017, PBB mengatakan dalam sebuah laporan bahwa kelaparan dunia telah meningkat hampir lima persen tahun ke tahun di tahun 2016 karena adanya peningkatan konflik kekerasan dan guncangan terkait iklim di seluruh dunia.
Laporan tersebut memperkirakan bahwa jumlah orang dengan gizi buruk di dunia meningkat menjadi 815 juta, yaitu 11 persen dari populasi dunia pada tahun 2016, meningkat dari 777 juta di tahun sebelumnya.
Sekitar 20 persen populasi Afrika (lebih dari 243 juta) terkena dampak kelaparan pada periode yang sama, demikian dicatat.





