Kenyataannya Penderitaan Pengungsi Lebih Pahit daripada Tayangan TV

Pengungsi menuju Eropa. Foto: al Jazeera

IDOMENI (KBK) – Sekitar 2.500 sampai 3.000 orang pengungsi menyeberangi laut di Idomeni, di perbatasan Yunani-Makedonia, tiga kali dalam enam hari.

Hal itu dilaporkan Omar Al Saleh, Reporter Al Jazeera dari Idomeni, Rabu (30/12/2015).

Ia melihat kondisi yang kontras di sana, ada manusia yang jahat dan ada manusia yang baik.

Penderitaan pengungsi yang banyak diekspos di TV yang sering terlihat, bukanlah gambaran penderitaan yang lengkap. Kenyataannya jauh lebih buruk dan ketidakberdayaan mereka, mutlak sangat jelas terlihat.

Omar melihat di antara pengungsi anak berusia satu tahun, dia terlihat lelah, kedinginan dan mengantuk.

Ia melihat seorang pria Yazidi di kursi roda, meski lumpuh ia memberanikan diri untuk mengungsi, karena ia shock dan ketakutan ketika melihat ISIS merebut kota kelahirannya Sinjar di Irak utara, setahun lalu.

Ada juga seorang wanita tua dari Suriah, ia melakukan perjalanan ke Eropa dengan dua putranya.

“Penderitaan mereka sangat nyata dan mereka putus asa serta mereka terus menghadapi sikap baik dan buruk,” jelas Omar.

Omar melihat, seorang polisi tinggi dengan kacamata hitam gelap berusaha untuk menghibur pengungsi muda, sambil menepuk bahunya.

Namun akhirnya ia ditolak masuk perbatasan Macedonia karena kurangnya syarat pendaftaran.

“Mengapa Anda menangis? Dengar, saya tidak bisa membantu Anda. Anda harus pergi ke Athena dengan bus ini, lengkapi surat-surat Anda, baru kembali ke sini, ok?” kata polisi tersebut, pengungsi itu terus menangis.

Di perbatasan yang sama ada puluhan relawan: LSM, Dokter tanpa Perbatasan, UNHCR dan relawan Yunani, mereka benar-benar membantu pengungsi.

Tapi Omar juga melihat beberapa tanda-tanda yang mengkhawatirkan, di mana sebuah kendaraan polisi diparkir dan seorang polisi berbicara dengan beberapa orang di dalam.

“Jika Anda memberi saya 100 euro, Anda dapat pergi ke Eropa,” kata seorang oknum Polisi menawarkan jasa.

Awalnya Omar tidak percaya, namun sekitar 10 menit kemudian polisi yang sama datang kembali dan mengatakan kepada mereka hal yang sama.

Tidak jelas apakah, Polisi tersebut punya uang atau tidak. Dua hari kemudian, sekitar 20 sampai 30 pengungsi dikirim kembali dari perbatasan Macedonia. Ada pengungsi dari Maroko, Afghanistan dan beberapa dari negara lain.

Kenyataannya Penderitaan Pengungsi Lebih Pahit daripada Tayangan TV

IDOMENI (KBK) – Sekitar 2.500 sampai 3.000 orang pengungsi menyeberangi laut di Idomeni, di perbatasan Yunani-Makedonia, tiga kali dalam enam hari.

Hal itu dilaporkan Omar Al Saleh, Reporter Al Jazeera dari Idomeni, Rabu (30/12/2015).

Ia melihat kondisi yang kontras di sana, ada manusia yang jahat dan ada manusia yang baik.

Penderitaan pengungsi yang banyak diekspos di TV yang sering terlihat, bukanlah gambaran penderitaan yang lengkap. Kenyataannya jauh lebih buruk dan ketidakberdayaan mereka, mutlak sangat jelas terlihat.

Omar melihat di antara pengungsi anak berusia satu tahun, dia terlihat lelah, kedinginan dan mengantuk.

Ia melihat seorang pria Yazidi di kursi roda, meski lumpuh ia memberanikan diri untuk mengungsi, karena ia shock dan ketakutan ketika melihat ISIS merebut kota kelahirannya Sinjar di Irak utara, setahun lalu.

Ada juga seorang wanita tua dari Suriah, ia melakukan perjalanan ke Eropa dengan dua putranya.

“Penderitaan mereka sangat nyata dan mereka putus asa serta mereka terus menghadapi sikap baik dan buruk,” jelas Omar.

Omar melihat, seorang polisi tinggi dengan kacamata hitam gelap berusaha untuk menghibur pengungsi muda, sambil menepuk bahunya.

Namun akhirnya ia ditolak masuk perbatasan Macedonia karena kurangnya syarat pendaftaran.

“Mengapa Anda menangis? Dengar, saya tidak bisa membantu Anda. Anda harus pergi ke Athena dengan bus ini, lengkapi surat-surat Anda, baru kembali ke sini, ok?” kata polisi tersebut, pengungsi itu terus menangis.

Di perbatasan yang sama ada puluhan relawan: LSM, Dokter tanpa Perbatasan, UNHCR dan relawan Yunani, mereka benar-benar membantu pengungsi.

Tapi Omar juga melihat beberapa tanda-tanda yang mengkhawatirkan, di mana sebuah kendaraan polisi diparkir dan seorang polisi berbicara dengan beberapa orang di dalam.

“Jika Anda memberi saya 100 euro, Anda dapat pergi ke Eropa,” kata seorang oknum Polisi menawarkan jasa.

Awalnya Omar tidak percaya, namun sekitar 10 menit kemudian polisi yang sama datang kembali dan mengatakan kepada mereka hal yang sama.

Tidak jelas apakah, Polisi tersebut punya uang atau tidak. Dua hari kemudian, sekitar 20 sampai 30 pengungsi dikirim kembali dari perbatasan Macedonia. Ada pengungsi dari Maroko, Afghanistan dan beberapa dari negara lain.

Advertisement