JENEWA – PBB mengatakan sangat diperlukan suatu perundingan untuk mencegah “pertumpahan darah sipil” di daerah pertahanan terakhir Suriah Idlib, setelah pasukan rezim menembaki daerah, diluar dugaan.
“Perang tidak dapat dibiarkan lagi ke Idlib,” kata kepala satuan tugas kemanusiaan PBB untuk Suriah, Jan Egeland, kepada wartawan di Jenewa, Kamis (9/10/2018).
Presiden Bashar al-Assad telah memperingatkan bahwa provinsi barat laut akan menjadi prioritas utama militernya. Serangan artileri dan roket dilaporkan menghantam posisi pemberontak dan ekstremis di daerah itu pada Kamis pagi.
Egeland mengatakan dia tetap “berharap” bahwa upaya diplomatik yang dilakukan dapat mencegah serangan darat besar yang akan memaksa ratusan ribu orang melarikan diri.
“Itu buruk sekarang,” di Idlib, kata Egeland. “Itu bisa 100 kali lebih buruk.”
Idlib adalah rumah bagi sekitar 2,5 juta orang, hingga setengah dari mereka adalah pemberontak dan warga sipil ditransfer secara massal dari wilayah lain yang jatuh ke pasukan Suriah setelah serangan intens.
Egeland menambahkan operasi militer besar di Idlib akan menimbulkan mimpi buruk kemanusiaan karena tidak ada wilayah oposisi yang tersisa di Suriah tempat orang-orang dapat dievakuasi.
“Saya tidak bisa melihat evakuasi ke daerah-daerah lain yang dikendalikan oposisi,” katanya, menjelaskan bahwa rencana darurat sedang dibentuk untuk menangani berbagai skenario.





