Tragedi Ahvaz: Arab Saling Tuding

Tragedi penyerangan di tengah parade militer di kota Ahvaz, Khuzestan, Iran yang menewaskan 29 orang, Sabtu (22/9) memicu tudingan terhadap Arab Saudi dan UEA.

KONFLIK antara Iran melawan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UAE) semakin tajam pasca tragedi berdarah penyerangan di tengah parade militer di kota Ahvaz, Provinsi Khuzestan, Iran barat daya, Sabtu (22/9) lalu.

Dua puluh sembilan korban tewas, 57 luka-luka saat terjadi penyerangan di tengah parade militer tahunan yang digelar Garda Revolusi Iran (IRGC) untuk memperingati Perang Iran – Irak di kota tersebut yang juga menjadi ajang pertempuran delapan tahun (1980 – 1988) dan menewaskan sekitar satu jiwa dari kedua belah pihak.

Iran menuding aksi berdarah tersebut didalangi oleh anasir-anasir Arab Saudi dan UEA yang disokong Amerika Serikat dan dilakukan oleh orang-orang yang dilatih di salah satu negara di selatan Teluk bersama Israel.

Menurut catatan, dalam sengketa di Yaman, Iran mendukung kelompok Houthi, sebaliknya UEA dan Arab berada di belakang lawannya, rezim petahana pimpinan Presiden Abdurrabouh Mansour Hadi, begitu pula dengan Qatar yang dikucilkan olah Arab dan UEA, didukung Iran.

Sebelumnya, Presiden Iran Hasan Rouhani menuduh kelompok separatis Khuzestan yang didukung salah satu negara sekutu AS di selatan Teluk Persia bertanggungjawab atas aksi penyerangan tersebut, walau kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) juga menklaim bertanggungjawab atas insiden itu.

Jubir kelompok separatis Khuzdestan berbasis di Ahvaz, Front Populer Demokratis Al-Awazi (ADPF) melalui jubirnya, dari London, Yaqoub Altosari dalam suatu wawancara TV juga menyatakan, pihaknya bertanggung jawab dan menyebutkan aksinya sebagai “perlawanan atas target yang syah”.

Iran sendiri saat ini juga sedang di tengah aksi saling ancam dengan musuh bebuyutannya, Israel dimana kedu abelah pihak mengingatkan kemampuannya untuk menghabisi lawannya dengan kekuatan militer dan senjata pemusnah massal yang dimiliki masing-masing.

Namun perang total antara kedua kekuatan raksasa di kawasan itu agaknya belum akan pecah dalam waktu dekat ini.

Iran dengan keterbatasan senjata berteknologi canggih karena diembargo Barat dalam beberapa dekade ini walau mampu mengembangkan rudal-rudal balistik yang menjangkau Israel tentu akan berhitung-hitung lagi, sebaliknya Israel, agaknya lebih senang memantau dari jauh saja, sengketa yang terjadi antarsesama Arab, ketimbang terjun langsung.

Sesama Arab bersengketa, Israel bersuka cita di tengahnya. (AFP/Reuters/NS)

Advertisement