WASHINGTON – Amerika menyerukan gencatan senjata di Yaman dan menuntut pihak yang bertikai segera datang ke meja perundingan.
Seruan muncul ketika koalisi militer Saudi-Emirat menugaskan lebih dari 10.000 pasukan baru menuju kota pelabuhan yang dikuasai pemberontak menjelang serangan baru.
James Mattis, kepala Pentagon, mengatakan AS telah menyaksikan konflik cukup lama, menambahkan dia yakin Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang berada dalam koalisi dukungan AS yang memerangi pemberontak Houthi siap untuk berunding.
“Kami harus bergerak menuju upaya perdamaian di sini, dan kami tidak bisa mengatakan kami akan melakukannya di masa depan,” kata Mattis di Institut Perdamaian AS di Washington, dikutip Aljazeera, Rabu (31/10/2018).
“Kami harus melakukan ini dalam 30 hari ke depan.”
Mattis mengatakan Amerika Serikat menyerukan semua faksi untuk bertemu Utusan Khusus PBB Martin Griffiths di Swedia pada November dan datang untuk menciptakan solusi.
Arab Saudi dan sekutu-sekutunya telah terjun dalam konflik antara Presiden Yaman yang diperangi Abd-Rabbu Mansour Hadi, yang pemerintahannya diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan Huthi pada tahun 2015.
Setidaknya 10.000 orang telah terbunuh dan negara yang kini berada di ambang kelaparan yang mengancam sekitar 13 juta warga.
PBB mengatakan Yaman bisa menjadi bencana kemanusiaan terburuk yang telah dialami dunia dalam 100 tahun.




