PADANG – Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) Sumatra Barat Ade Edward mengatakan pesisir barat Pulau Sumatra, khususnya Sumatra Barat, berpotensi terimbas tsunami yang disebabkan longsoran tebing bawah laut, serupa dengan pemicu tsunami di Selat Sunda akhir pekan lalu.
Dia mengatakan pada Ahad (30/12/2018), jika tsunami bisa saja menerjang pesisir barat Sumbar karena dipicu longsoran tebing bawah laut yang terletak di area Backthrust Mentawai, di antara Kepulauan Mentawai dan Pulau Sumatra.
“Berbeda dengan tsunami yang dipicu oleh Megathrust di sebelah barat Mentawai, tsunami karena longsoran tebing bawah laut di sebelah timur Mentawai akan tiba lebih cepat ke Padang,” kata Ade, dikutip Republika.
Ia menjelaskan, tsunami yang disebabkan longsoran tebing bawah laut bisa menerjang daratan tanpa perlu didahului gempa bumi, persis seperti kejadian tsunami di Selat Sunda.
Ade menyebut, longsor tebing bawah laut bisa saja dipicu oleh ombak besar atau pasang surut dalam volume signifikan. Gempa dengan magnitudo kecil saja, ujar Ade, juga bisa memicu adanya longsor tebing bawah laut yang akhirnya menyebabkan tsunami.
Ade mengingatkan Pemerintah Provinsi Sumatra Barat bersama instansi terkait untuk memastikan berfungsinya tide gauge atau alat pengukur muka air laut, yang berfungsi sebagai pendeteksi dini bila ada ancaman tsunami akibat adanya longsor bawah laut.
Ia menyebutkan, tide gauge yang dipasang di Mentawai bisa merekam adanya perubahan tinggi muka air laut secara mendadak dan memberi waktu bagi masyarakat di Sumbar daratan untuk mengevakuasi diri.
“Setelah kecolongan tsunami longsor di bawah laut Palu dan Anyer, sebaiknya tide gauge di Sumbar diaktifkan sebagai deteksi dini tsunami,” katanya.





