
AMERIKA – Salah satu warga negara Indonesia (WNI) membagi pengalamannya pertama kali berpuasa di bulan Ramadhan di Amerika, dan merasakan ada beberapa perbedaan.
Bagi Muslim asal Indonesia di Amerika yang terasa hilang dari suasana bulan Ramadan adalah juadah, penganan atau takjil untuk berbuka puasa. Makanan berlimpah tetapi tidak sama dengan di Indonesia.
“Pada bulan Ramadan kami berpuasa selama 30 hari. Saya tidak makan apa-apa dari subuh sampai magrib dan saya juga tidak makan di sekolah. Kalau saya pergi ke masjid, di sana juga tidak ada orang yang makan…dan saya lapar sekali,” kata seorang anak laki-laki, yang tidak menyebut nama, sebagaimana dilaporkan VOA.
Ramadan kali ini, suasana ibadah di Amerika Serikat juga diliputi oleh kekhawatiran mengenai masalah keamanan.
Dengan tragedi yang terjadi belakangan ini seperti penembakan di masjid di Selandia Baru, penembakan di sinagoga di San Diego sudah wajar masjid sekarang sangat mengutamakan keamanan. Keamanan tadinya juga ada hanya sekarang diperkuat.
Berdasarkan angka Biro Penyelidikan Federal (FBI) kejahatan kebencian berdasarkan agama terus bertambah dengan sasaran utama Yahudi dan Muslim.
Pada 2017, tercatat ada 273 insiden anti Muslim di Amerika. Dengan hal ini, umat Muslim senantiasa waspada akan keamanan lingkungan masjid. Apalagi pada bulan puasa masjid selalu dipenuhi umat.




