Siluman F-35 atau S-400?

Ilustrasi sistem rudal pertahanan udara S-400 Triumph Rusia dan pesawat tempur siluman F-35 Lightning II. AS sewot, karena Turki, sesama anggota NATO membeli sistem S-400 yang bisa mengganggu sistem pertahanan bersama negara-negara anggota NATO.

PERANG di era now tidak bisa cuma mengandalkan semangat dan jumlah personil, tetapi lebih mengedepankan adu teknologi, walau taktik dan strategi serta faktor manusia tentu juga perlu diperhitungkan.

Makanya, sejumlah negara menggelontorkan anggaran pertahanannya secara besar-besaran, bahkan kadang-kadang mengorbankan sektor-sektor lain yang sangat diperlukan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Anggaran pertahanan AS pada 2018 bernilai 649 milyar dollar AS yang (sekitar Rp9.254 triliun), tertinggi di dunia atau sekitar 4,5 kali APBN Indonesia. Bayangkan, anggaran pertahanan RI hanya sebesar Rp 106 triliun,lebih separuhnya untuk membayar gaji prajurit.

Sementera seteru bebuyutan AS sejak era Perang Dingin lalu, Uni Soviet yang kini sempal menjadi Rusia, satu dari 15 negara yang merdeka sendiri-sendiri, menempati posisi ke-enam dengan anggaran pertahanan sebesar 61,4 milyar dollar AS (sekitar Rp875 triliun).

Rontoknya Uni Soviet membuat anggaran pertahanan Rusia ikut anjlok, karena sebelumnya berasal dari gabungan ke-15 negara yang dinaunginya.

Posisi Rusia di ranking ke-2 disalip China dengan anggaran pertahanan sebesar 250 milyar dollar (sekitar Rp3.654 triliun), Arab Saudi (67,6 milyar dollar/Rp963 triliun), India (65,6 milyar dollar/Rp948 triliun) dan Perancis (63,4 milyar dollar/Rp875 triliun).

Anggaran pertahanan merupakan unsur amat penting dalam pengembangan alutsista karena menyangkut penciptaan teknologi baru, mulai dari tahap riset, ujicoba, sampai produksi yang padat modal, memerlukan dana yang fantastis.

Berbicara tentang konflik Timur Tengah, tidak bisa dilepaskan dari perlombaan persenjataan, terutama antara AS, dulu dengan Uni Soviet yang kini tersisa menjadi Rusia.

Pada Perang Enam hari, Juni 1967, Israel merebut inisiatif penyerangan, mengandalkan pesawat-pesawat tempur Phantom F-4 buatan AS dan Mirage III (Perancis) untuk melumpuhkan MiG-21, Il-28 dan pembom TU-16 ex- Uni Soviet yang masih berada di landasan, instalasi radar serta fasilitas militer Mesir dan Suriah.

Para pemerhati militer tentu masih ingat saat pesawat-pesawat F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon Israel merontokkan 82 pesawat MiG-21, MiG-23 dan Sukhoi SU-20 serta puluhan situs rudal pertahanan udara Suriah di langit Lembah Bekaa, Lebanon pada 9 Juni 1982.

Di palagan Suriah, keunggulan pesawat-pesawat tempur F-16 AS juga terbukti, dari lebih 100 sorti serangan udara yang dilancarkan di wilayah Suriah sejak 2017, hanya satu yang tertembak lawan.

Situs-situs rudal pertahanan udara S-200 Rusia di Suriah dan bahkan yang lebih canggih yakni S-300 sering berhasil ditembus pesawat-pesawat Israel, bahkan sebuah F-16 Israel berhasil mengecohnya, terbang di samping pesawat intai Il-20 Rusia sehingga ditembak jatuh kawan sendiri (18/9/2018).

Persaingan F-35 vs S-400
Media internasional beberapa waktu belakangan ini ramai memberitakan persaingan antara rudal sistem pertahanan udara Triumph S-400 Rusia dan pesawat tempur F-35 Lightning II AS yang akan digunakan oleh Turki.

F-35 adalah jenis pesawat joint Air Strike (JAS) atau multi fungsi generasi ke-5 buatan Lokheed Martin, Northrop Grumman (AS) dan BAE sistem (Inggeris) serta pengembangannya melibatkan seluruhnya 12 negara. Berkategori siluman atau tidak kasat radar.

Dengan kecepatan max. l,67 MACH, F35 mampu menggendong berbagai jenis rudal udara ke udara dan udara ke darat, aneka bom serta persenjataan lain. Pesawat ini dibandrol antara 48 dan 62 juta dollar (sekitar Rp672 milyar sampai Rp868 milyar tergantung variannya) yakni F-35A untuk pertempuran udara, F35B yang bisa terbang dan mendarat vertikal – VTOL dan F35C untuk digunakan di kapal induk).

Sedangkan sistem rudal pertahanan udara S-400 buatan perusahaan BUMN Rusia Almaz-Antei disebut-sebut mampu mengejar 36 sasaran udara berbeda secara simultan berupa rudal balistik, pesawat terbang atau drone sampai jarak 400 Km dan ketinggian 30 km. Satu set S-400 berupa paket rudal, mobil komando dan radar dihargai 400 juta dollar AS atau sekitar Rp5,6 triliun.

Presiden AS Donald Trump meradang, karena Turki yang sesama anggota Pertahanan Atlantik Utara (NATO) memutuskan membeli S-400 yang dicemaskan tidak kompatibel, bahkan bisa menganggu sistem persenjataan yang dioperasikan bersama.

Akibat keputusan tersebut, AS mencoret Turki dari proyek bersama pengembangan pesawat F-35 sehingga kehilangan peluang untuk memasok 900 komponen pesawat, bahkan dibatalkan untuk membeli 100 unit pesawat itu sesuai kesepakatan sebelumnya.

Dari hitung-hitungan bisnis, Rusia diuntungkan dengan penjualan beberapa set sistem S-400 kepada Turki bernilai kontrak dua milyar dollar AS (sekitar Rp28 triliun), sebaliknya AS gagal memperoleh peluang mengantongi kontrak sebesar 8,9 milyar dollar AS (sekitar Rp124 triliun) dari rencana penjualan 100 unit F-35 ke Turki.

Turki sendiri karena tidak diikutkan dalam proyek pengembangan F-35 yang diperkirakan masih dioperasikan hingga tahun 2035, kehilangan peluang milyaran dollar untuk memasok 900 komponen pesawat tempur siluman generasi ke-5 itu.

Selain dengan Turki, AS bekerjasama dengan 11 negara lain mengembangkan pesawat tempur F-35 yakni dengan Australia, Belanda, Belgia, Denmark, Inggeris, Israel, Italia, Jepang, Finlandia, Kanada dan Norwegia.

Institut Riset Perdamaian Stockholm (SIPRI) melaporkan, anggaran belanja militer dunia pada 2018 mencapai 1.822 milyar dollar AS atau setara Rp25.508 triliun.

Bayangkan, uang sebanyak itu bisa dimanfaatkan untuk membangun puluhan ribu bangunan sekolah, mengentaskan ratusan juta penduduk dunia dari kemiskinan dan yang kelaparan atau meningkatkan kesejahteraan umat di seluruh dunia.

Sebaliknya, perang, jelas menguntungkan negara-negara produsen senjata, dan setiap kemenangan bisa dijadikan bukti keandalan alutsista (combat proven) sebagai iklan pemasaran paling ampuh.

Padahal, bertolak belakang jika orang membayangkan, kepedihan anak-isteri, orang tua dan keluarga pilot, awak tank atau pasukan yang gugur atau cacat permanen di suatu pertempuran.(NS, berbagai sumber)

Advertisement