Perlombaan Senjata Nuklir, No!

Kesepakatan nuklir jarak sedang (INF) yang mati akibat penarikan diri sepihak AS, diusahakan dilanjutkan dengan mengikutsertakan China. Uang daripada dihambur-hamburkan untuk membuat senjata pembunuh massal, lebih baik untuk misi kemanusiaan, mengentaskan kemiskinan dan menyejahterakan dunia.

KESADARAN pada ancaman malapetaka umat manusia akibat penggunaan senjata nuklir harus terus dikumandangkan termasuk dengan memperluas keterlibatan negara-negara untuk ikut menyepakati pembatasannya.

Menlu Jerman, Heiko Maas di Berlin (3/7) menyampaikan ajakan kepada China sebagai kekuatan nuklir baru untuk bergabung dengan Traktat Nuklir Jarak Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty – INF) yang baru.

Pembentukan Traktat INF disepakati oleh Presiden Ronald Reagan dan pemimpin terakhir Uni Soviet (sebelum runtuh menjadi 15 negara merdeka termasuk Rusia) Mikhail Gorbachev, 1987.

Namun INF kemudian buyar akibat mundurnya AS dari traktat 2 Agustus lalu dan kini muncul wacana baru untuk mengaktifkan kembali dengan memasukkan China , negara di luar INF yang juga memiliki arsenal senjata nuklir.

Presiden AS Donald Trump sebenarnya juga sudah pernah menyinggung kemungkinan keterlibatan China dalam traktat INF yang baru, namun sejauh ini pihak Beijing belum menunjukkan minatnya.

INF menyepakati pembatasan pengembangan dan penggunaan misil pengangkut hulu ledak nuklir berjangkauan 500 Km hingga 5.500 Km kecuali yang diluncurkan dari laut.

AS dan sekutunya yang bergabung dalam Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) menarik diri karena menuding Rusia telah melanggar kesepakatan dengan mengembangkan rudal berkode 9M729 atau SSC-8 yang memiliki jangkauan 1.500 Km.

Sebaliknya, Rusia mengaku jarak jangkau SSC-8 hanya 480 Km sehingga pihaknya menolak memusnahkan rudal-rudal tersebut sesuai tuntutan AS yang dinilai hanya dalih untuk mengembangkan rudal-rudal baru.

Alasan AS Tarik Diri
AS di bawah Presiden Donald Trump memutuskan menarik diri dari INF secara sepihak, menurut Menlu Mike Pompeo, karena tidak ingin menjadi salah satu pihak dalam kesepakatan yang dilanggar Rusia.

“Pembangkangan Rusia dengan mengembangkan dan meningkatkan sistem rudal yang bertentangan dengan kesepakatan INF mengacaukan kepentingan utama AS dan sekutu-sekutu kami, “ kata Pompeo.
Reuters mengutip beberapa pejabat senior di pemerintah Trump yang tidak disebutkan namanya telah mengonfirmasi penarikan AS secara sepihak dari traktat INF.

Alasannya, rezim Moskow dianggap telah menggelar sejumlah rudal jelajah—yang melanggar Perjanjian INF—di seluruh wilayahnya termasuk di Rusia barat yang mampu menjangkau sasaran-sasaran penting di Eropa.

Presiden Rusia Vladimir Putin juga sudah menandatangani dekrit memuat penangguhan keikutsertaan Moskow dalam perjanjian INF sebagai respons atas langkah sepihak Washington.

Sebelumnya, Wakil Menlu Rusia Sergei Ryabkov meminta AS untuk memberlakukan moratorium penempatan rudal nuklir jarak menengah, setelah Traktat INF mati.

Namun Menlu Maas dan Sekjen NATO Jens Stoltenberg mencoba meyakinkan, dengan mengatakan bahwa Eropa tidak akan terlibat perlombaan persenjataan walau INF berakhir.

Ketimbang menghambur-hamburkan uang untuk membuat senjata penebar maut, lebih baik jika para pemilik senjata nuklir bersatu-padu memerangi kemiskinan dan menyejahterakan dunia. (AP/AFP/Reuters/ns)

Advertisement