
LEPAS dari rezim apartheid kulit putih yang yang berkuasa antara 1961 sampai 1994, perjalanan Republik Afrika Selatan yang demokratis tidak selalu mulus, kini diguncang gelombang aksi unjukrasa.
AFP melaporkan (14/7), 72 orang tewas, sebagian besar pelaku penjarahan dalam aksi kerusuhan yang terjadi di dua provinsi terpadat yakni Gauteng dan Kwazulu-Natal, Senin (12/7) lalu.
Sebagian korban tewas di tengah aksi penjarahan bahan makanan, alat elektronika, minuman keras dan apa saja di pusat perbelanjaan dan ritel di tengah kota dan melempari aparat yang mencoba mencegah aksi mereka.
Presiden Cyril Ramaphosa mengaku, ia terpaksa mengerahkan tentara untuk membantu polisi menghentikan aksi kerusuhan berdarah yang yang pertama kali terjadi di negerinya. Sekitar 750 orang yang diduga terlibat kerusuhan dilaporkan ditangkap.
Pemenjaraan mantan presiden sebelumnya, Jacob Zuma terkait tuduhan korupsi ditambah kesulitan ekonomi Afsel akibat dampak pandemi Covid-19 antara lain yang menjadi pemicu kerusuhan.
Pasukan militer diturunkan ke jalan-jalan dari dua provinsi paling padat di Afrika Selatan, yaitu Gauteng (provinsi dari pusat ekonomi negara, Johannesburg) dan KwaZulu-Natal (provinsi kelahiran Zuma).
“Aksi kekerasan publik telah terjadi dalam beberapa hari terakhir ini. Suatu peristiwa langka di negeri ini,” ujar  Ramaphosa dalam keterangan persnya.
Situasi memanas terkait pengajuan banding pembatalan hukuman 15 bulan kurungan yang ditetapkan Pengadilan Tinggi di Johannesburg  terhadap Zuma oleh tim pembelanya.
Zuma sendiri dijatuhi hukuman karena menentang perintah pengadilan konstitusi untuk memberikan bukti atas penyelidikan kasus korupsi yang terjadi selama sembilan tahun kepemimpinannya (1999 – 2018).
Ia menolak bekerja sama dalam penyelidikan kasus korupsi terkait transaksi pembelian alutsisa bernilai 2 miliar dollar AS (sekitar Rp28,9 triliun) melibatkan tiga pengusaha asal India saat ia menjabat wakil presiden pada 1999.
Hukuman penjara tersebut menandai runtuhnya karir politik Zuma yang semula adalah aktivis anti-apartheid terkemuka dan pemimpin gerakan pembebasan yang berubah menjadi partai penguasa, Kongres Nasional Afrika (ANC).
Afsel dengan penduduk sekitar 55 juta jiwa, 70 persen pribumi, 11 persen keturunan Eropa dan sisanya pendatang kulit berwarna dari Asia (paling banyak India)sejak 1961 sampai 1993 dipimpin oleh pemerintah rezim kulit putih.
Baru kemudian, pada 1994 perubahan terjadi saat pemimpin Afrika National Kongres (ANC) di bawah tokoh Nelson Mandela meraih kekuasaan pada 1994 yang mengawali era demokrasi di negara benua hitam itu.
Kejadian di Afsel tersebut bisa menjadi pembelajaran bahwa idealisme pejuang dan pemimpin pribumi juga bisa luntur gegara munculnya peluang untuk korup.
Â
Â




