JAKARTA – Pengungsi asal Palestina, Ahmed Ali Said Jaber, kini hidup terkatung-katung bersama keluarganya yang hanya tinggal di sebuah kamar kos di Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat.Harapannya hanya satu, bantuan pekerjaan agar ia dapat menafkahi keluarganya.
Bersama kedua putrinya, ia tinggal di ruangan hasil sewa yang pembayarannya dibantu temannya asal Mesir, hanya berukuran sekitar 25 meter persegi, yang penuh sesak dengan barang-barang yang ia punya.
Perjalanannya panjang hingga akhirnya ia bisa berada di Jakarta, ia memulai perjalanan dari Irak, negara kelahirannya, ke Yordania dan berakhir disini.
“Saya dan keluarga tinggal di Irak hingga tahun 2003. Saat itu, pasukan Amerika Serikat sedang menginvasi Irak sehingga menimbulkan konflik. Salah satunya memicu konflik antara etnis Sunni dengan Syiah,” ujar Ahmed, kepada Rappler, Senin (30/1/2017).
Ia mengungkapkan akibat konflik antar etnis itu, rumahnya dibakar. Bahkan, Ahmed nyaris tewas karena api ikut menyambar tubuhnya. Alih-alih mengungsi kembali kota Jaffa di Palestina – yang tanahnya diambil paksa oleh Israel – dia memilih kabur ke negara tetangganya di Yordania pada akhir 2003.
“Saya sempat tinggal selama 8 bulan di sebuah gereja tapi kemudian kami tinggal di tenda yang berada di tanah kosong,” kata Ahmed, Di tanah kosong itu dia tinggal bersama 800 orang lainnya.
Sayangnya, karena mengungsi, Ahmed tidak diizinkan untuk bekerja. Sehingga, dia hanya mengandalkan bantuan yang didistribusikan ke kamp pengungsi.
Di negara pengungsiannya tersebutlah ia juga mendapatkan jodoh yang ia nikahi secara agama, Tati Juati Sahli al Fasem, yang merupakan WNI yang bekerja di Yordania sebagai asisten rumah tangga.
“Di Pengadilan Agama di Yordania, sulit mewujudkan pernikahan beda kewarganegaraan. Saya tidak punya biaya untuk mengurus biaya dokumen pernikahan. Akhirnya, kami sempat menikah secara agama saja,” kata Ahmed.
Tahun 2007, puteri pertama mereka, Rawan Jaber lahir. Selang dua tahun, Ahmed kembali dikarunia puteri yang diberi nama Razan Jaber. Tetapi, untuk bisa mendapatkan sertifikat kelahiran untuk kedua puterinya, Ahmed harus mengurus surat nikah yang sah.
“Akhirnya, saya mengumpulkan uang dengan bekerja serabutan dan meminjam uang untuk biaya surat nikah. Saya sempat ditangkap polisi karena ketahuan bekerja. Sebab, jika tidak begitu, dari mana saya memperoleh biaya untuk membiayai anak dan istri,” tutur dia.
Dari hasil kerjanya, dana sekitar Rp 22 juta untuk membeli tiket pesawat menuju ke negara sang istri, Indonesia. Dia tiba di Indonesia pada bulan Februari 2014.
Tetapi sayang nasibnya di Jakarta serupa dengan di Yordania, karena ia tidak boleh bekerja dan kedua puterinya pun tidak bisa bersekolah.
“Saya memutuskan mendaftar ke kantor UNHCR agar bisa berangkat ke negara ketiga. Saya sudah ceritakan apa permasalahan saya, tetapi mereka hanya mengatakan agar saya bersabar,” tutur Ahmed.
Meski sudah tiga tahun dia memegang kartu sebagai pengungsi tapi hingga saat ini belum ada kepastian yang diperoleh kapan dia dan keluarga akan ditempatkan di negara baru.
“Saya ditempatkan di mana saja entah itu di Kanada, Selandia Baru atau Amerika Serikat juga tidak masalah. Yang penting saya bisa bekerja dan membentuk kehidupan yang baru,” tutur dia.
Dia mengaku sebenarnya nyaman tinggal di Indonesia. Warga di sekitar tempatnya tinggal, disebut Ahmed ramah dan hangat jika dibandingkan warga Yordania dan Palestina.
Tanpa pekerjaan, dia tidak dapat menafkahi keluarganya, dan kini hanya bisa pasrah, bahkan bayar sewa kosnya akan berakhir di pekan ini. Sebelumnya ia mendapat keringanan bantuan dari temannya Rp 6 juta untuk pembayaran selama tiga bulan.
“Saya selalu sedih ketika memikirkan nasib kedua puteri saya. Situasi ini sangat tidak nyaman untuk mereka. Saya selalu bertanya-tanya bagaimana caranya bisa memberikan kedua puterinya masa depan yang cerah, karena semua rencana saya tidak berjalan mulus,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Kini ia berharap ada bantaun dari pemerintah Indonesia, “Sekarang tidak ada yang membantu saya. Saya minta tolong demi anak, karena saya tidak memiliki uang untuk membeli makanan dan tidak mempunyai pekerjaan,” ujar Ahmed memohon.





