Cirebon-Sejumlah aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam organisasi Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Pusat, Greenpeace Indonesia, Jaringan Advokasi Pertambangan (Jatam) Pusat dan Gerakan Masyarakat Peduli Lingkungan (Gempal) Cirebon, melakukan aksi unjuk rasa di tempat pembongkaran batubara PLTU tahap I.
Dalam aksinya mereka yang berjumlah puluhan orang itu membentangkan dua spanduk bertuliskan, “Quit Coal” dan “Clean Energi dan Clear Air”. Aksi ini sebagai bentuk penolakan penggunaan batubara sebagai sumber energi dan meminta pemerintah pusat tidak menggunakan batubara sebagai sumber energi.
Menurut manager kampanye dari Walhi, Didi Rahman, penggunaan batubara untuk PLTU dinilai sangat berdampak bagi lingkungan hidup dan kehidupan manusia.
“Jika pemerintah peduli dengan lingkungan, jangan lagi menggunakan batubara sebagai sumber energi. Karena batubara dapat merusak lingkungan dan menyebabkan penyakit ISPA bagi masyarakat. Sebenarnya, negeri kita sangat kaya akan sumber energi, Maka dari itu, pemerintah harus menggunakan energi yang terbarukan,” tegasnya, Minggu (15/5) seperti dilansir PR Online.
Sementara itu, manager kampanye dari Greenpeace Indonesia, Hindun mengatakan dampak batubara menyebakan angka kematian cukup besar. Dari data yang ada, katanya, sekitar 6.500 manusia meninggal setiap tahunnya.
“Dampak negatif dari penggunaan batubara sangat besar, baik bagi manusia maupun lingkungan. Maka sudah saatnya pemerintah melarang penggunaan batubara sebagai sumber energy, terutama untuk PLTU. Jangan sampai masyarakat kecil yang tak mengerti apa-apa erkena imbas dari debubatu bara tersebut,” ungkapnya.
Sedangkan, Ketua Gempal Cirebon, Mohammad Rohmat menambahkan, penggunaan batubara sangat berdampak buruk pada kesehatan masyarakat, terutama di Desa Kanci, Kecamatan Astanajapura.
“Saat ini masyarakat Kanci, sangat sulit mendapatkan udara segar dengan adanya PLTU yang menggunakan batubara sebagai sumber energi. Kami mendesak PLTU Cirebon menghentikan penggunaan batubara sebagai sumber energi dan melakukan pemeriksaan secara berkala pada masyarakat yang terkena dampak. Karena, selama ini PLTU Cirebon terkesan mengesampingkan keluhan masyarakat mengenai kesehatan,” imbuhnya.





