TIJUANA – Seorang gadis tujuh tahun dari Guatemala meninggal karena dehidrasi setelah ia dibawa ke tahanan otoritas migrasi di perbatasan AS bersama ayahnya.
Washington Post telah melaporkan, anak dan ayahnya tersebut telah ditahan oleh otoritas imigrasi pada 6 Desember di negara bagian New Mexico AS sebagai bagian dari sekelompok 163 orang yang mendekati agen AS untuk menyerahkan diri.
Pada 7 Desember, dia mulai mengalami kejang, dan responden darurat mengukur suhu tubuhnya pada 105,7 derajat. Dia kemudian dibawa ke rumah sakit, dimana akhirnya dia tak mampu bertahan dan meninggal.
Seorang juru bicara di Rumah Sakit Providence di El Paso, di negara bagian Texas AS, di mana Post melaporkan bahwa anak itu diambil, belum menanggapi permintaan untuk berkomentar.
Nama-nama gadis dan ayahnya pun tidak dirilis. Badan itu, yang biasanya menyediakan makanan dan air bagi para migran di dalam tahanannya, sedang menyelidiki insiden itu untuk memastikan apakah kebijakan yang tepat diikuti.
“Tragedi ini merupakan hasil terburuk yang mungkin terjadi ketika orang-orang, termasuk anak-anak, ditahan dalam kondisi yang tidak manusiawi,” ungkap Cynthia Pompa, manajer advokasi untuk ACLU Border Rights Center.
“Kurangnya akuntabilitas, dan budaya kekejaman dalam CBP telah memperburuk kebijakan yang menyebabkan kematian migran,” tambahnya. “Pada tahun 2016, kematian migran meningkat bahkan ketika jumlah perlintasan perbatasan menurun secara dramatis.”




