Anak Rohingya Jadi Tulang Punggung Keluarga

Tahera, anak rohingya jadi tulang punggung keluarga/ AFP

BANGLADESH – Tahera Begum harus berjalan satu mil sendirian pada waktu subuh untuk mengumpulkan kayu bakar untuk orang tuanya yang sakit dan empat saudara kandungnya, sebuah beban yang sangat besar bagi seorang  anak berusia 10 tahun  di pemukiman pengungsi terbesar di dunia.

“Saya melakukannya karena tidak ada orang lain di keluarga saya, kedua orang tua saya sakit, mereka tidak dapat bergerak tanpa bantuan,” kata gadis Rohingya kepada AFP sambil memotong sayuran di gubuk tarpaulin keluarganya di Bangladesh.

Diperkirakan 1.400 anak-anak adalah satu-satunya penopang keluarga mereka di kamp-kamp pengungsi yang ramai di sepanjang perbatasan Bangladesh.

“Hal ini dapat menuntun mereka pada pekerja anak dan pekerjaan seks eksplisit. Keluarga-keluarga ini mungkin juga mengalami lonjakan pernikahan anak-anak, yang sangat memprihatinkan,” kata juru bicara Save the Children International Rik Goverde.

Bagi Tahera, setiap hari dimulai saat matahari terbit dengan perjalanan panjang ke hutan untuk mengumpulkan kayu bakar untuk memasak.

Dia pun hampir tidak beristirahat sebelum memulai tugas pagi kedua yakni berdesak-desakan dengan para pengungsi lainnya untuk mengisi sebuah guci di pompa air  di sudut kampnya. Kemudian pada hari itu, Tahera membawa sisa kayu ke pasar lokal untuk dijual.

“Semua saudara saya lebih muda dari saya. Menjadi anak tertua, saya hanya melakukan peran saya,” katanya.

Advertisement