
“PEMBANGUNAN atau perbaikan ruas jalan dari titik A ke C terus dikebut, dan diharapkan beberapa hari menjelang lebaran (minus atau – H) sudah bisa dilalui pemudik “ .
Kalimat di tiras berita bersumber dari pernyataan pejabat berwenang terkait angkutan lebaran seperti itu tidak asing lagi, bahkan terasa klise bagi para awak media massa dari masa ke masa terutama menjelang memasuki Idul Fitri.
Reporter yang puluhan tahun lalu pernah menulis berita atau melaporkan secara audio atau visual di media elektronika terkait angkutan lebaran, jika masih aktif di media sama, kini mungkin sudah menjabat kepala redaksi, kepala reporter atau pemimpin redaksi, dan sebagian lagi, mungkin sudah lengser atau pensiun.
Namun tiras berita semacam itu menjelang Idul Fitri 1438 H yang kemungkinan akan jatuh pada hari Minggu 25 Juni nanti masih menghiasi hasil liputan media cetak, radio mau pun televisi.
Persoalan angkutan mudik muncul berulang-ulang dari tahun ke tahun karena memang banyak tahapan yang harus dilalui dalam proyek pembangunan infrastruktur perhubungan, mulai dari pendanaan, perencanaan sampai pengerjaan proyek dan menyangkut pergerakan jutaan manusia dari satu titik ke titik lainnya.
Terkait sumber dan sistem pendanaan, mulai dari kegiatan survei sampai ke pelaksanaan proyek, apakah bersumber dari bantuan atau hibah luar negeri, baik dari badan internasional atau bilateral, dana APBN atau APBD, swasta atau patungan.
Pada tahapan berikutnya, mungkin dilakukan lelang, dan setelah itu, persoalan pembebasan tanah sering juga menghambat awal pengerjaan proyek atau membuat penyelesaian proyek molor.
Pertanyaannya, kenapa setiap menjelang arus mudik lebaran, khususnya jalan raya diperbaiki? Apakah tidak bisa dibuat, konstruksi jalan yang tahan untuk digunakan dalam beberapa tahun, hingga pemerintah tidak selalu disibukkan dengan proyek tambal sulam setiap jelang lebaran?
Jawabannya tentu juga bisa beragam. Bisa jadi karena keterbatasan anggaran, sehingga perbaikan jalan dilakukan sekadarnya. Yang penting bisa dilalui pemudik. Jika jalan rusak lagi setelah arus balik mudik usai, tidak masalah, karena tahun depan dianggarkan lagi. Begitu seterusnya.
Bisa juga jalan yang baru dibangun atau diperbaiki, cepat rusak, karena sudah menjadi rahasia umum bertahun-tahun, pembatasan tonase kendaraan di negeri ini sering hanya aturan di atas kertas.
Tertangkap tangannya petugas jembatan timbang yang sedang menerima “uang mell” (lapor) atau mengumpulkan lemparan kotak korek api berisi uang dari para supir truk menunjukkan bahwa kelebihan beban menjadi penyebab rusaknya jalan terjadi sangat kasat mata.
Selain karena cekaknya anggaran, komposisi campuran “bestek” atau material yang “disesuaikan” demi menekan biaya, dengan alasan anggaran proyek disunat oleh anggota parlemen atau pimpinan proyek, juga bisa jadi mempercepat kerusakan jalan. Wallahualam!
Baru kejar ketertinggalan
Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimulyono mengakui, walaupun telah maksimal, pembangunan infrastruktur perhubungan termasuk jalan raya saat ini masih dalam tahap mengejar ketertinggalan.
“Infrastruktur yang dibangun baru mencapai 80 persen dari layanan minimal, padahal jika mencapai 100 persen pun masih pas-pasan, “ akunya.
Persoalan angkutan mudik tiap tahun terus berulang, mulai dari kemacetan arus lalu-lintas yang parah akibat jumlah kendaraan yang terus melonjak, sementara prasarana terbatas, buruknya perilaku pengendara dan kurang tersedianya angkutan umum hingga menimbulkan angka korban kecelakaan meningkat.
Diperkirakan 19 juta orang akan mudik menjelang Idul Fitri 1380 H tahun ini, 5,3 juta orang menaiki sepeda motor, atau meningkat tajam dari 4,3 juta unit pada lebaran 2016, sedangkan pengguna mobil pribadi naik dari 3,04 juta unit menjadi 3,14 juta unit.
Sejumlah jalan toll dan non toll terus dibangun, juga jaringan KA terutama di Jawa dengan membangun jalur double-double track (sepasang jalur ganda), sementara sejumlah BUMN memfasilitasi pengiriman sepeda motor bagi calon pemudik. Namun semuanya masih belum cukup, karena jumlah pemudik juga terus meningkat dari tahun ke tahun.
Dengan dioperasikannya ruas jalan toll Brebes – Grinsing sepanjang 110 Km di Jawa Tengah, diharapkan penumpukan arus mudik di pintu toll Brebes (Brexit) yang mengakibatkan belasan pemudik tewas akibat kelelahan di tengah kemacetan puluhan jam pada arus mudik tahun lalu bisa terhindari.
Penumpukan arus lalu-lintas di pintu toll Brebes diharapkan terurai karena di sepanjang ruas jalan itu disediakan delapan gerbang toll , masing-masing empat pintu untuk tujuan arah wilayah utara dan empat ke selatan Jawa.
Namun kewaspadaan diminta bagi para pemudik, karena minimnya lampu penerangan jalan dan rambu-rambu lalu-lintas di sepanjang ruas jalan toll fungsional tersebut.
Selain menyiapkan kendaraan dan kondisi fisik, pengendara juga diminta mematuhi peraturan, termasuk tidak mengangkut muatan atau penumpang lebih, terutama kendaraan beroda dua.
Ingat! Mudik bertujuan untuk mengejar silaturahim, bukan jalan tercepat menuju alam baka.
Selamat mudik, semoga sampai tujuan dan kembali ke kota asal tanpa halangan.



