AS Ketar-ketir Hadapi Kekuatan China

Rudal Dong Feng China. AS cemas terhadap modernisasi persenjataan China yang dikhawatirkan bisa menyainginya sebagai kekuatan global.

NEGARA Paman Sam atau Amerika Serikat mulai cemas terhadap kemajuan mesin perang China yang terus dimodernisir dan dikembangkan sebagai kekuatan global, menyaingi posisinya yang tak tertandingi selama pasca era Perang Dingin.

Jika sampai akhir dekade 1970 China yang masih menggantungkan pasokan alutsista buatan Uni Soviet, baik yang dipasok atau “dicopy paste” untuk dikembangkan, kini sudah memproduksi sendiri, bahkan menjadi eksportir ke negara-negara di dunia ketiga.

Menurut catatan TNI-AL juga menggunakan rudal-rudal dari permukaan ke permukaan yang ditempatkan di sejumlah kapal perangnya dan meriam anti serangan udara ringan Giant Bow buatan China.

Kemenhan AS atau Pentagon juga meyakini, China kini kemungkinan sudah mampu melakukan mekanisme peluncuran triad nuklir rudal balistik antarbenua (ICBM) dari situs di matra darat, laut mau pun udara yang dalam dekade-dekade sebelumnya hanya dimiliki AS dan Rusia.

AS juga percaya, China sedang membangun  situs peluncuran rudal baru yang secara kumulatif dapat menampung ratusan silo di bawah tanah untuk meluncurkan rudal ICBM.

Ambisi China untuk menjadi kekuatan global menggeser AS dan Rusia juga tercermin dari anggaran militernya  yang pada 2020 mencapai 252 miliar dollar AS (setara Rp3.500 triliun), di bawah AS yang tertinggi dengan 778 miliar dollar (Rp11.000 triliun) dan menyalip Rusia 61,7 miliar dollar (Rp876 triliun).

Dari alutsista, terobosan China a.l. tampak dengan hadirnya rudal-rudal ICBM seri Dong  Feng (DF-17, DF-21 dan DF-41) termasuk versi pembunuh kapal induk dan pengangkut hulu ledak nuklir yang bisa menjangkau wilayah AS dan kini sedang mengembangkan rudal hipersonik.

Pesawat tempur siluman generasi ke-5 Chengdu J-20  disebut-sebut mampu bersaing dengan pesawat F-22 Raptor dan F-35 Super Lightning II (AS) atau Sukhoi SU-35 Rusia, sedangkan kemajuan lain yakni kapal induk pertama buatan galangan dalam negeri “Shandong”, menambah kapal induk “Liaoning” buatan Ukraina yag dimodifikasi.

Tekad China yang dilontarkan Presiden Xi Jin Ping untuk merebut Taiwan yang diklaim sebagai wilayahnya, menjadikan China sebagai kekuatan global pada 2049 serta kehadirannya di Laut China Selatan (LCS) juga  mencemaskan musuh-musuhnya.

Di LCS, China bersengketa dengan Malaysia, Vietnam, Filipina dan Brunei dan mengklaim sembilan titik putus-putus di peta (nine dots line) dan sebagian perairan itu sebagai wilayah tradisional tangkapan ikan tradisional nelayannya walau tidak diakui PBB.

Perimbangan Kekuatan

Dari segi personil, Tentara Pembebasan China (PLA) lebih unggul dengan 2,2 juta personil belum termasuk cadangan, dibandingkan 1,35 juta tentara aktif AS.

Di darat saja, PLA memiliki 915-ribu personil didukung sekitar 13.000 dan 40.000-an panser dibanding 486.000 personil tentara AS didukung sekitar 6.300 tank dan 39.000 panser.

AU China didukung sekitar 2.500 pesawat termasuk pesawat generasi ke-5 Chengdu J-50 dan berbagai varian modifikasi pesawat Rusia seperti Sukhoi SU-27, SU-30, TU-16, sebaliknya AS unggul dengan 13.000 aneka pesawat termasuk J-22 Raptor, F-15 Eagle, F-16 Fighting Falcon dan pembom B-1B Lancer serta SR-71 Black Bird.

Matra laut China didukung 360 kapal perang termasuk dua kapal induk (Laioning dan Shandong, dua lagi sedang dibangun),76 kapal selam termasuk beberapa yang bertenaga nuklir plus 33 kapal perusak, 52 fregat, 42 korvet dan puluhan kapal cepat peluncur rudal.

Sementara AL AS memiliki sekitar 300 aneka kapal perang termasuk 11 kapal induk yang memimpin gugus tugas untuk berpatroli di perairan int’l, 66 kapal selam nuklir, 91 perusak, puluhan fregat dan19  korvet.

Selain kekuatan konvensional, kedua negara juga memiliki senjata pemusnah massal atau arsenal berhulu ledak nuklir.

Tidak diketahui persis jumlah hulu ledak nuklir yang dimiliki China, namun menurut Institut Riset dan Perdamaian Stockholm (SPRI) sekitar 350-an dibandingkan AS dengan 5.800 hulu ledak nuklir, 1.400 diantaraya siap diluncurkan dari situs-situs di darat, laut dan udara.

“Menang jadi arang, kalah jadi abu”, ungkap pepatah lama sehingga kepemilikan senjata pemusnah massal oleh keduanya diharapkan malah bisa menghindari perang karena sama-sama takut akan akibatnya.

 

 

 

Advertisement