AS Tingkatkan Respon Krisis Rohingya Jelang Kunjungan Trump ke Asia Tenggara

Pengungsi baru rohingya terlantar di perbatasan Bangladesh, Selasa (17/10/2017)/ AP
WASHINGTON –  Tekanan telah meningkat dan  AS yang lebih keras merespon krisis Rohingya menjelang kunjungan perdana Presiden Donald Trump ke Asia bulan depan ketika dia akan menghadiri pertemuan negara-negara Asia Tenggara, termasuk Myanmar, di Manila.
Sekretaris Negara AS Rex Tillerson berbicara pada kepala militer Myanmar dan menyatakan keprihatinannya atas kekejaman yang dilaporkan terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

Tillerson mendesak kepala tentara, Jenderal Senior Min Aung Hlaing, untuk mendukung pemerintah Myanmar dalam mengakhiri kekerasan tersebut dan membiarkan kembalinya etnis Rohingya yang melarikan diri dari wilayah tersebut, kata pernyataan tersebut.
 

Lebih dari 600.000 Muslim Rohingya telah meninggalkan negara bagian Rakhine di Myanmar yang mayoritas beragama Buddha, kebanyakan ke negara tetangga Bangladesh, karena pasukan keamanan menanggapi serangan militan Rohingya pada 25 Agustus dengan melancarkan tindakan keras. 

Departemen Luar Negeri sedang mempertimbangkan untuk secara formal mengumumkan tindakan keras terhadap Muslim Rohingya  sebagai pembersihan etnis. 

Dalam pembicaraannya dengan Min Aung Hlaing, Kamis (26/10/2017),  Tillerson juga mendesak militer Myanmar untuk memfasilitasi bantuan kemanusiaan bagi orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, mengizinkan akses media dan bekerja sama dengan penyelidikan PBB terhadap tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. 


Advertisement