AS Tarik Armadanya dari Bahrain, Perang Sudah Dekat?

kapal-kapal dan pasukan AS dilaporkan meninggalkan pangkalanya yang ada di Timur Tengah untuk mencegah serangan rudal Iran. (dok.ist)

TIDAK ada yang bisa memastikan jadi tidaknya perang antara dua seteru bebuyutan: Amerika Serikat dan Iran di tengah retorika perang yang terus dilontarkan masing-masing pihak.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump sudah beberapa kali  memperingatkan, risiko serangan harus dipikul Iran jika tidak ada kesepakatan (untuk menghentikan)  program nuklirnya.

Sebaliknya gelora perang juga dilontarkan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei termasuk dengan melakukan manuver-manuver atau simulasi tempur, baik oleh armada AL maupun Garda Revolusi Iran (IRGC). Latgab militer juga digelar militer Iran bersama China dan Rusia.

Dalam dua kali perundingan yang dimediasi pemerintah Oman yakni di Muscat, Oman 7 Feb. dan di Jenewa, 19 Feb. keduanya gagal mencapai kesepakatan tentang pembatasan penyediaan dan pengayaan uranium, serta  imbalan atas pencabutan sanksi embargo AS ke Iran.

Dalam perkembangan terakhir, salah satu yang mengindikasikan perang bakal terjadi, AL AS dilaporkan oleh AFP melalui Middle East Monitor, telah menarik seluruh kapal perangnya dari pangkalan militer di Bahrain.

Langkah ini terdeteksi melalui pantauan citra satelit yang menunjukkan kekosongan armada di markas besar Armada ke-5 AL  AS tersebut.

Takut jadi sasaran

Sementara melansir laporan Associated Press, keputusan penarikan armada AS dipicu oleh kekhawatiran, pangkalan di Bahrain dapat menjadi sasaran empuk rudal-rudal balistik Iran jika perang benar-benar pecah.

Ini bukan pertama kalinya AS mengambil langkah preventif serupa.  Pada Juni 2025, AL AS juga melakukan pergerakan serupa menyusul adanya serangan terhadap sejumlah fasilitas nuklir.

Sedangkan negara mitra AS dalam konflik di Timur Tengah yakni Israel mengestimasi,  AS telah mencapai “point of no return” atau “kepalang basah”  terkait kemungkinan melancarkan serangan udara.

Pejabat tinggi militer dan politik diprediksi hanya akan menerima pemberitahuan dalam waktu yang sangat singkat sebelum serangan AS benar-benar dimulai.

Seorang pensiunan perwira senior yang terlibat dalam operasi regional memberikan gambaran situasi yang kian genting.

“Probabailita AS untuk menahan diri, tidak memulai  serangan, semakin berkurang dari jam ke jam,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa fokus saat ini bukan lagi pada apakah serangan akan terjadi, melainkan pada teknis pelaksanaannya.

“Pertanyaannya adalah kapan serangan pertama akan dilakukan, dalam bentuk apa, dan seberapa luas jangkauannya,” lanjutnya.

Sementara itu, pembicaraan antara wakil-wakil AS dan Iran dijadwalkan kembali berlangsung di Jenewa, Swiss, Kamis dengan mediasi Menlu  Oman Nadr Albusaidi.

Namun, kehadiran meja perundingan tidak menyurutkan ancaman militer AS.  Gugus  tempur besar AS saat ini telah disiagakan di seantero Timur Tengah.

Tercata ada dua kapal induk yakni USS Abraham Lincoln dan USS Gerald Ford yang sudah berada di perairan Timur Tengah, dikawal sejumlah kapal perusak dan korvet.

Kedua kapal induk selain mengangkut sekitar 150 unit pesawat  termasuk Siluman F-35 Lightning dan F-22 Raptor, juga mengangkut 8.000-an marinir lengkap dengan tank-tank dan perlengkapan pendarat lainnya.

Hingga saat ini, ancaman aksi militer AS tetap berlaku dan dapat terjadi kapan saja, bergantung pada perkembangan situasi di lapangan.

Skenario perang

Kemungkinannya, jika pecah perang, AS bersama Israel akan melancarkan serangan kilat dengan memanfaatkan teknologi dan kekuatan matra udara dan lautnya untuk membungkam situs-situs militer, markas komando, pertahanan udara, radar dan sarang-sarang rudal Iran.

Sebaliknya, Iran akan mengguyur pangkalan AS di Timur Tengah dan wilayah Israel dengan ribuan stok rudal yang dimilikinya.

Di sini, adu teknologi, akan berbicara, apakah rudal rudal balistik Iran mampu menembus sistem pertahanan Iron Dome Israel, atau sistem Aegis yang dipasang di pangkalan-pangalan AS?

Sebaliknya, apakah sistem pertahananan berlapis Israel dan AS termasuk yang disiapkan di kapal-kapal induk dan satelit mampu menahan semua serangan rudal Iran yang konon sudah ditingkatkan kecepatannya menjadi hipersonik, berkemampuan jelajah dan daya rusak lebih tinggi?. (AP/AFP/Middle East Monitor)

 

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here