Asoka Achmad Nasocha, pemuda yang kos di daerah Tambak Rejo gang Prau kecamatan Waru. Hampir setiap hari kala siang dan sore hari melakukan aktifitas rutin menebarkan budaya baca di daerah sekitar tempat kosnya. Aktifitas seperti ini sudah dilakoninya mulai sekitar dua bulan yang lalu.
Bermodalkan gerobak buku yang dimodifikasi diatas sepeda ontel menjadi perpustakaan keliling andalannya. Gerobak yang berisi aneka buku anak-anak dan dicat warna hitam ini, tiba-tiba langsung diserbu anak-anak SD Tropodo 2 waru sidoarjo ketika Asoka berkunjung pada saat jam istirahat.
Dalam kunjungan ke SD Tropoda 2 yang kesekian kalinya ini, Asoka menuturkan, semakin hari antusias anak-anak semakin tinggi. Hal ini terlihat dari jumlah anak yang semakin banyak ketika asoka berkunjung mengantarkan aneka buku bacaan pada tanggal 10-12-2015 saat jam istirahat sekolah.
Tidak hanya di sekolah-sekolah, asoka juga menjajakan aneka buku bacaannya dibeberapa TPQ (Taman Pendidikan Alquran), salah satunya yaitu TPQ yang berada di Desa Gedongan Waru. Dalam aksinya menebarkan budaya baca, Asoka menuturkan, antara sekolahan dan TPQ berbeda waktunya. Kalo di TPQ dia datang sebelum anak-anak mengaji.
Jadi sebelum anak-anak menimba ilmu agama, anak-anak dimanjakan terlebih dahulu dengan aneka buku bacaan seperti buku kisah-kisah sahabat, komik,dan aneka buku bacaan yang intinya untuk segmen anak-anak.
Untuk setiap aksinya, pemuda yang dipanggil Asoka ini memakai pakaian rapi dan bersepatu seperti layaknya sales produk berkelas. Tidak hanya itu, dia juga menularkan kemampuannya dalam berbahasa Inggris dengan cara mengajak anak-anak berkomunikasi dengan bahasa inggris. Dan inilah yang sering membuat anak-anak terpingkal-pingkal ketika dia berkomunikasi dengan anak-anak dan mengajarkan bahasa Inggris, sementara sang anak masih belum mengerti dengan apa yang Asoka ucapkan. Suasana seperti inilah yang diinginkan Asoka untuk lebih dekat dengan Pemustaka.
Untuk saat ini, Asoka berharap agar aksinya banyak mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, karena koleksi bacaan yang dimilikinya masih sangat minim. Adapun untuk mendukung gerakan ini tentunya dengan cara menghibahkan aneka buku bacaan terutama segmen anak-anak guna pengembangan Pustaka Ontel andalanya.
Adapun musim hujan seperti saat ini, menjadi kendala utama baginya. Maklum gerobak buku yang jadi andalannya tidak ada penutup untuk dijadikan pengaman bagi buku bacaan koleksi Pustaka Ontelnya. Hal inilah yang membuat dia tidak bisa menjajakan aneka buku bacaan ketika hujan tiba, karena khawatir buku-buku yang dibawanya kehujanan‘’tukasnya’’.



