
TERBETIK kabar, Australia akan segera memulai Proyek Greyfin untuk memodernisasi pasukan khususnya guna mengantisipasi ancaman global yang terus berkembang.
Tidak tanggung-tanggung, pemerintah negeri Kanguru itu akan menggelontorkan dana tiga milyar Dollar Australia (setara Rp29 triliun, atau lebih seperempat total anggaran belanja militer RI pada 2018) selama 20 tahun untuk membentuk pasukan khusus dengan kemampuan terbaik dan standar mutakhir.
Jumlah itu bisa dibandingkan dengan total anggaran belanja (APBN) pertahanan RI sekitar tujuh milyar dollar AS atau setara kurang-lebih Rp100 triliun, lebih separuhnya untuk membayar gaji prajurit.
Dari sisi kekuatan militer (personil dan jumlah peralatan), berdasarkan survei Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), TNI dengan sekitar 500 ribu personil berada pada peringkat ke-14, dibandingkan dengan Australia yang hanya memiliki 60-ribu tentara aktif pada urutan ke-23.
Namun dari sisi anggaran belanja militer, Australia berada pada peringkat ke-13 dunia dibandingkan besaran alokasi anggaran APBN RI yang berada di ranking ke-28.
Bahkan Australia akan meningkatkan anggaran belanja pertahanananya pada dasawarsa ke depan menjadi 200 milyar dollar AS atau rata-rata 20 milyar dollar AS (sekitar Rp280 triliun) setahun.
PM Scott Morison di Sydney (11/8) menyebutkan, Proyek Greyfin mencakup penerapan teknologi tercanggih, inovasi dan riset untuk memastikan pasukan memiliki yang terbaik saat menunaikan tugas di palagan-palagan perang yang paling berbahaya.
Perlengkapan mutakhir
Sementara Menhan Linda Reynolds pada harian Sydney Morning Herald senada dengan Morison mengatakan, pasukan khusus yang akan dibentuk akan dibekali pelatihan dan peralatan tempur terbaik.
“Pasukan kami, lebih dari (kemampuan) yang dimiliki sebelumnya, harus selalu siap siaga diterjunkan di bagian dunia mana pun yang saat ini dalam ketidak pastian, “ ujarnya.
Dari pernyataan itu agaknya tersirat niat Australia untuk meningkatkan andil dan keterlibatannya ikut menyelesaikan konflik-konflik in’tl seperti yang pernah dilakukan a.l. di Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, konfrontasi RI – Malaysia di Kalimantan Utara dan juga konflik Timor-Timur.
Menurut catatan, Pasukan Khusus Australia (Special Air Service Regiment-SASR) yang merupakan binaan pasukan khusus SAS Inggeris pernah terlibat insiden dengan TNI saat ditempatkan di Kalimantan Utara di bawah bendera Persemakmuran menjelang penghujung konfrontasi RI-Malaysia tahun ’65-an.
Satuan SASR sama dengan SAS yang bermotto: “Who Dares Wins” (Siapa Berani, Menang) juga berada dalam posisi berseberangan dengan TNI saat mengemban misi Pemerintah Peralihan PBB (United Nations Transitionary Administration on East Timor – UNTAET) pasca referendum dari 1999 – 2002.
Proyek Greyfin juga sejalan dengan isi Buku Putih Pertahanan Australia 2016 yang lebih menekankan perannya di kawasan Indo-Pasifik guna mengimbangi upaya ambisius China menanamkan pengaruhnya.
Modernisasi militer Aussie tentu saja urusan internalnya, namun RI yang berada di front terdepan Asia-Pasifik dan Laut China Selatan yang disengketakan antara China, Taiwan, Brunei, Filipina, Malaysia dan Vietnam juga perlu mencermati dan mengantisipasinya.
Si Vis Pacem Para Bellum. Siapa yang ingin damai harus siap perang!




