
DEMAM Berdarah Dengue atau DBD sudah ditetapkan sebagai kejadian luar biasa atau KLB di sejumlah wilayah di Indonesia dan kemungkinan juga akan mewabah di tempat lain mengingat puncak musim penghujan di beberapa tempat baru berakhir Maret.
Wilayah yang sudah ditetapkan sebagai KLB DBD, ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit Depkes Anung Sugihantoro di Jakarta, Jumat (18/1) : Kab. Gunung Mas, Kalimantan Tengah, Kab. Sumba Timur, Sumba Barat, Ende, Ngada Timor Tengah Utara, Manggarai Barat dan Manggarai Timur di NTT.
Dengan status tersebut, menurut Anung, pemerintah sudah menyiapkan Dana Siap Pakai dalam hal anggaran rutin yang sudah dialokasikan tidak mencukupi, misalnya untuk membeli abate atau insektisida (organophospat) dan oli untuk pengasapan (fogging).
Sementara itu berdasarkan data dari 10 provinsi yang dirilis Depkes sampai 17 Januari 2019, tercatat 4.798 kasus terduga DBD di ketiga provinsi di Jawa, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur, NTT, Lampung, Sumatera Utara, Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan.
DBD juga tercatat terjadi di kawasan ibukota, tercatat 39 terduga DBD di Jakarta Selatan sampai 17 Januari, sementara kasus DBD yang terdata pada 2018, menurut Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Wiyastuti sebanyak 2.285 orang, dua meninggal, sementara pada 2017 sebanyak 3.362 orang, seorang meninggal.
Jatim dengan 1.081 kasus menempati kasus terduga DBD tertinggi, disusul Jateng (690) dan Jabar (541). Kasus-kasus terduga DBD banyak terjadi di P. Jawa karena aksesabilitas terhadap layanan lebih mudah sehingga sangat membantu proses pendataan.
Sedangkan dari Sulawesi Utara dikabarkan RS-RS setempat kewalahan menampung pasien DBD yang Januari ini merenggut delapan nyawa anak-anak dengan 628 kasus, terbanyak di kota Manado (253 kasus).
Dilaporkan, RS Kandou Manalayang, Manado Jumat lalu menerima 200 pasien terduga DBD sehingga pihak RS terpaksa meminjam 50 velvet tambahan dari Kodam XIII untuk ditempatkan di ruang tamu dan ruang rapat yang disulap jadi bangsal darurat.
Untuk itu, Anung meminta agar warga di sleuruh wilayah di Indonesia ikut proaktif mencegah DBD dengan menaburkan abate di penampungan air atau memelihara ikan pemangsa jentik-jentik nyamuk.
“Jentik nyamuk dalam musim penghujan harus dipantau secara berkala, sarang nyamuk harus diasmi. Jangan sampai ada jentik-jentik di genangan air, “ ujarnya.
Hal senada disampaikan oleh Ahli Penyakit Tropik dan Infeksi FK Universitas Indonesia Erni Juwita Nelwan yang meminta agar warga memperhatikan genangan air di sekitar lingkungan hunian.
Menurut dia, telur nyamuk aedes aegepti tahan berbagai kondisi di perkotaan. Dalam kondisi kering, bisa bertahan enam bulan, namun jika teredam air, bisa jadi nyamuk dewasa dalam sepekan.
Jadi, mengurangi tempat-tempat yang berpotensi menjadi habitat nyamuk dewasa seperti tumpukan baran-barang atau pakaian harus selalu dibersihkan, begitu pula pembeian abate pada genangan air dan fogging di sekitar hunian atau perumahan.
Ayo para warga dan pengurus RT, singsingkan lengan baju, gotong-royong basmi DBD.



