BATAM – Hingga kini masih banyak orangtua yang belum mengetahui bahaya pemberian susu kental manis untuk bayi di bawah usia satu tahun, salah satunya kasus bayi di Batam yang mengalami gizi buruk karena pemberian susu kental manis.
Terkait hal tersebut, DPRD Batam akan menindaklanjuti temuan bayi gizi buruk akibat mengkonsumsi susu kental manis sejak usianya masih dua bulan.
Ketua Komisi III DPRD Batam, Nyanyang Haris, mengatakan masih banyak masyarakat yang belum paham tentang cara memilih produk, susu kental manis adalah salah satunya. Produk yang seharusnya untuk campuran makanan, tapi malah diberikan untuk anak.
“Kental manis adalah campuran untuk bikin teh manis atau kopi, bukan untuk susu anak,” tegas Nyanyang, Kamis (12/4/2018), dilansir Republika.
Persoalan gizi buruk dikatakan Nyanyang sebagai salah satu fokus perhatian pemerintah.
“Yang dilakukan saat ini adalah bagaimana agar gizi anak ini diprioritaskan dengan mengedukasi ibu lewat posyandu. Masyarakat juga wajib melaporkan bila ada temuan seperti ini, supaya pemerintah dapat ikut andil, “ ujar Nyanyang.
Januari lalu Vania, balita di Kecamatan Sagulung Kota terpaksa dirawat di RSUD Embung Fatimah karena menderita gizi buruk. Nefriyanti, Dokter Gizi Puskesmas Sei Lekop, Sagulung Kota yang menangani mendampingi membenarkan gizi buruk tersebut bermula dari susu kental manis yang dikonsumsi Vania sejak berusia 2 bulan.
Gejala awal yang terlihat adalah Vania mengalami kulit melepuh, tidak dapat bergerak hingga akhirnya gizi buruk. “Kulit yang melepuh memang efek yang cepat terlihat bila bayi diberi kental manis, anak-anak terutama bayi dibawah setahun tidak boleh diberi kental manis,” jelas Nefriyanti.
Lebih lanjut, akibat dari salah asupan tersebut, imunitas tubuh anak juga terganggu dan akibatnya rentan terserang penyakit penyerta. “Ya karena minum kental manis itu, asupan gizinya tidak sesuai. Daya tahan tubuh jadi lemah dan akhirnya bakteri TB (tuberculosis) mudah menyerang,” imbuh Nefri.
Upaya pengentasan gizi buruk di Kota Batam dilakukan dengan mengoptimalkan peran posyandu dan dinas kesehatan yang langsung turun ke masyarakat. Edukasi mulai diberikan untuk ibu hamil hingga menyusui, terutama kecukupan gizi pada masa 1.000 hari pertama kelahiran.
Meski demikian, faktor lingkungan tetap menentukan pemilihan asupan untuk keluarga, seperti kebiasaan serta pengaruh iklan dan promosi produk di televisi yang menjadi tontonan masyarakat. “Seharusnya (produsen susu kental manis) dalam berjualan itu juga memberi tahu ke masyarakat susu ini gunanya untuk apa, tidak boleh untuk apa,” kata Nefri.





