JAKARTA – Banjir akibat hujan lebat di Korea Utara (Korut) telah menewaskan 133 penduduk di wilayah timur laut negara itu.
Kantor berita Reuters pada selasa lalu (13/9) melaporkan, selain korban tewas juga sebanyak 395 orang hilang dan 107.000 orang lainnya mengungsi karena banyak rumah dan bangunan penting hancur.
Berita tentang bencana cukup sulit diakses terlebih karena negri komunisitu kian menutup diri dari negara tetangga dan dunia setelah uji nuklir kelimanya, Jumat (9/9/) lalu.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) dalam laporannya mengatakan, akibat banjir tersebut sedikitnya 35.500 rumah rusak. Dua pertiga dari jumlah rumah itu hancur total yang mengakibatkan 107.000 jiwa harus mengungsi.
OCHA mengatakan, jumlah korban tewas dan hilang didapat dari data pemerintah Korut.
Media pemerintah Korut melaporkan, hujan lebat sejak akhir Agustus hingga awal September telah menyebabkan kerusakan parah dekat Sungai Tumen. Namun, tanpa menyebut jumlah korban tewas.
Badan PBB itu mengatakan, penilaian terhadap kerusakan didasari pada kunjungan lapangan ke wilayah terkait pekan lalu oleh perwakilan PBB, Federasi Palang Merah Internasional, dan Masyarakat Bulan Sabit Merah (IFRC), Palang Merah Korut, dan lembaga swadaya masyarakat.
Kantor berita Korut, KCNA, mengatakan pada Minggu (11/9/), “fenomena cuaca” terburuk sejak lebih dari 70 tahun terakhir telah menimpa wilayah utara hingga menyebabkan “kerugian besar”. Meski demikian, proses pemulihan masih terus dilakukan.
Tingginya pembalakan hutan untuk bahan bakar dan pertanian membuat negara itu rentan tertimpa bencana alam, khususnya banjir.





