Beranikah Saudi Melawan Iran?

Tiga dari 48 pesawat tempur Typhoon Arab Saudi buatan konsorsium Eropa (Eurofighter). Ancaman kemanusiaan jika Arab Saudi yang merupakan negara dengan anggaran militer ke-3 terbesar di dunia berperang dengan Iran.

MUNGKINKAH Arab Saudi mengambil alih komando setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan keengganannya untuk berperang langsung melawan Iran?

AS merespons serangan belasan drone ke kilang minyak terbesar Abqaiq dan Quraish, Arab Saudi (14/9) yang diduga dilakukan oleh Iran, kaki tangannya di Yaman atau di Irak, dengan mengirimkan pasukan untuk membantu pertahanan Arab Saudi, bukan menyerang Iran langsung.

Semula, serangan ke Iran menjadi salah satu opsi yang akan dilakukan AS selain meningkatkan embargo ekonomi atau melakukan perang proxy dengan menggunakan perpanjangan tangan sekutu-sekutunya seperti Arab Saudi atau Uni Emirat Arab (UEA).

Pihak yang bertanggungjawab atas serangan yang melumpuhkan kedua kilang berkapasitas pengolahan lima juta barel per hari atau separuh produksi minyak Saudi yang dikelola oleh perusahaan Aramco, AS itu belum bisa dilacak, kecuali hampir bisa dipastikan dilakukan oleh kelompok yang berafiliasi dengan Iran.

Selain langsung dari wilayah Iran, serangan ke kilang Abqaiq dan Kuraish yang memiliki deposit minyak 20 milyar barel itu bisa juga dilakukan oleh milisi Hashed al-Shaabi atau Hisbullah binaan Iran yang bermarkas di Irak atau milisi Houthi yang beroperasi di Yaman.

Pengamat menduga, tujuan serangan sekedar “unjuk gigi” dan mengingatkan AS dan “antek-anteknya” bahwa pertahanan mereka mudah ditembus. Iran juga berhasil menembak jatuh pesawat nirawak atau drone RQ-4 Global Hawk AS di Selat Hormus (20/6) lalu.

Pesannya, Iran dan konco-konconya mampu menyerang kepentingan AS, Arab Saudi dan lainnya tidak saja dari selatan seperti yang dilakukan Houthi di Yaman yang sudah mengirim 240-an rudal jelajah ke negeri serambi Islam itu, juga dari timur oleh Iran langsung atau dari utara oleh milisi Hisbullah dan Hasheed al-Shaabi yang beroperasi di Irak.

AS dan Saudi sendiri agaknya sedang menghitung-hitung untung-ruginya menyerang Iran, karena dikhawatirkan akan menyeret pihak-pihak lain sehingga membakar Timur Tengah dan mengganggu produksi dan pasokan minyaknya.

Lagi pula, walau Saudi memilik persenjataan modern yang dipasok besar-besaran oleh AS dan sejumlah negara Barat, di era modern ini belum pernah berperang, bahkan di tengah konflik dengan Israel yang menyeret sejumlah negara-negara Arab, Saudi tidak melibaktan diri langsung.

Saudi dengan belanja militer 2019 sebesar 82,9 milyar dolar AS atau setara Rp1.160 triliun menempati peringkat ke-3 setelah AS (643,3 milyar dolar/Rp9.000 triliun) dan China (168,2 milyar dolar/Rp2.354 triliun), di atas Rusia (63,1 milyar dolar/Rp883,4 triliun).

AU Saudi mengoperasikan sekitar 850 pesawat,300-an unit diantaranya seri mutakhir jet tempur Eagle F-15 SA buatan AS, selebihnya Tornado dan Typhoon buatan konsorsium Eropa (Eurofighter) dan Mirage-2000 Perancis serta lebih heli serang termasuk AH 64 Apache.

Personil AB Saudi seluruhnya sekitar 230 ribu orang, sedangkan AD-nya didukung lebih 1.000 tank, separuhnya Abrams M1A2, juga M60 Patton (keduanya eks-AS) dan AMP-10 Perancis, kendaraan tempur Bradley (Inggeris) dan howitzer swagerak M109 Paladin (AS).

Wilayah Saudi juga dipayungi sistem pertahanan udara (hanud) anti rudal Patriot PAC-3 yang dianggap sukses menangkal rudal-rudal Scud Irak dalam Perang Teluk I pada 1990, rudal anti rudal jarak pendek Avenger dan jarak menengah Hawk (semua buatan AS).

Pada 2018 Saudi juga membeli sistem hanud rudal anti rudal Terminal Pertahanan di Ketinggian (Terminal High Altitude Area Defence – THAAD) senilai 15 milyar dolar AS atau setara Rp210 triliun. Tidak diketahui, apakah sistem rudal yang tidak menggunakan hulu ledak, tetapi dengan tumbukan (benturan) kinetik terhadap rudal lawan itu sudah tiba dan dioperasikan.

Saudi juga dilaporkan memiliki lebih seratus rudal balistik Dong Feng DF-03 buatan China yang sudah ditingkatkan kemampuannya menjadi DF-21 berjangkauan sampai 2.100 Km, dapat dipasang hulu ledak nuklir atau digunakan menyasar kapal induk atau wilayah daratan lawan.

Sejauh ini sistem hanud Saudi cukup andal mencegat sekitar 240 rudal balistik Scud eks-Rusia yang dimodifikasi oleh Iran dan digunakan milisi Houthi menyerang berbagai sasaran di Saudi dari Yaman. Sebagian jatuh di lahan kosong dan sebagian hanya menimbulkan kerusakan ringan.

Berbeda dengan serangan pada 14 Sept. lalu, agaknya radar Saudi gagal menjejak dan menjatuhkan belasan drone pembawa bom yang terbang rendah dan berukuran kecil.

Iran masih mengoperasikan jet-jet tempur lawas eks-AS seperti F-4 Phantom, F-5Tiger, A-4 Skyhawk , F-14 Tomcat buatan AS era Perang Dingin, MiG-29 Fulcrum eks-Soviet dan F-1 Mirage eks-Perancis akibat embargo AS dan Barat pasca jatuhnya rezim Shah Reza Pahlevi pada 1979.

Di tengah embargo, Iran masih bisa mengembangkan rudal-rudal balistik yang digunakan milisi Houthi di Yaman menyerang Saudi, dan sekitar 873 ribu anggota AB-nya didukung lebih 1.600 tank-tank lawas T-55 dan T-62 warisan Soviet dan sistem rudal hanud S-300 eks-Rusia. Menurut catatan, anggaran militer Iran sekitar 15 milyar dolar AS (setara Rp210 triliun) atau hanya seperlima budget Saudi.

Konflik antara Iran dan Saudi di belakang AS dicemaskan bisa menyeret kekuatan lain seperti Rusia dan China yang masing-masing tentu berpihak pada salah satunya.

Advertisement