JAKARTA, KBK – Derita hidup yang menimpa keluarga Karnadi seakan tiada habisnya, anak ke tiganya yakni Muhammad Azaz yang masih berusia 1,5 tahun menderita tumor mata. Karnadi pun tak dapat berbuat banyak karena jerat kemiskinan yang membelenggu keluarganya.
Di dalam bilik reot peninggalan orang tuanya seluas 2,5 X 5 meter yang terletak di Kelurahan Karang Rata, Kecamatan Anjatan, Kabaupaten Indramayu, Jawa Barat, Karnadi harus bergadang bersama istrinya, Wastiri secara bergantian.
Tumor mata yang makin membesar membuat Azaz selalu terjaga pada malam hari, Azaz selalu terbangun pada pukul 00.00 dan baru tertidur pada jam 2 siang. Hebatnya Azaz lebih banyak diam kendati sesekali menangis karena tak kuasa menahan sakit.
Pola tidur Azaz yang mulai berubah sejak munculnya tumor mata pada 2 bulan lalu, tentu membuat Karnadi dan sang istri kelimpungan. Di pagi hari ketika kantuk masih menggelayut di mata, Karnadi harus sudah sigap berangkat ke sawah demi bisa menghidupi keluarga. Istri Karnadi yang hanya ibu rumah tangga membuat tanggung jawab Karnadi menafkahi kelurga kian berat.
Sawah seluas 2 hektar yang di garap Karnadi pun bukan milik pribadi. Sebagai buruh tani lepas, Karnadi harus rela berbagai hasil panen dengan pemilik sawah. Setiap panen dengan masa tanam 4 bulan, Karnadi hanya mampu membawa pulang Rp 2,5 juta yang hanya cukup untuk sekedar menyambung hidup.
Untuk menambah pemasukan supaya dapur tetap negbul, terkadang Karnadi di bantu oleh anak sulungnya Ugi Sugito yang hanya lulusan SLTP dalam mengolah sawah. Karnadi mengaku tak dapat meneruskan sekolah Ugi ke jenjang SLTA karena alasan klasik yakni ekonomi. Sementara anak kedua Karnadi, Wilanda Kristin yang masih duduk di bangku kelas 3 SD praktis masih membutuhkan biaya pendidikan.
Beruntung Karnadi mengantongi BPJS sehingga biaya pengobatan Azaz tak terlalu membebani keuangan keluarga. Mengetahui ketidakberesan pada mata kiri anaknya, Karnadi lantas membawa Azaz ke puskesmas setempat pada awal Agustus lalu dengan mengendarai sepeda motor bebek miliknya yang sudah berusia lawas, pihak puskesmas pun merujuk Azaz k RSUD Indramayu tanpa dibekali obat maupun salep mata.
Minimnya ilmu dan peralatan yang dimiliki RSUD Indramayu, lagi-lagi Azaz harus dirujuk ke RS Mata Cicendo Bandung untuk diambil tindakan yang lebih serius. Selama proses perujukan Azaz sama sekali tak diberikan obat, meski sekedar obat tetes mata.
Senin lalu (22/08/16) Karnadi berserta istri ditemani ketua RT setempat memboyong Azaz ke Bandung. Deru mesin bus yang mengantarkan Azaz ke RS Cicendo seakan menjadi harapan tersendiri bagi Karnadi akan kesembuhan mata Azaz.
“Yang memberatkan saya adalah ongkos bus per orang Rp 50 ribu, apalagi saya ber empat dan harus menginap di rumah sakit pasti membutuhkan biaya untuk makan dan itu tidak sedikit,” ucap Karnadi ketika di hubungi KBK Rabu (24/08/16).
Untuk menopang biaya hidup selama di RS Cicendo Bandung, Karnadi mengandalkan uang bantuan dari para tetangga yang berhasil terkumpul sebanyak Rp 1,5 juta itu pun sudah separuhnya habis digunakan untuk akomodasi.
Menjelang malam, sarung motif kota-kotak yang digunakan karnadi sekana tak mampu menahan hawa dingin kota Bandung yang sanggup menusuk hingga tulang. Selain hawa dingin yang menggigit, rasa kantuk yang amat berat juga harus ditanggung Karnadi. Pasalnya ia harus tetap terjaga sambil menemani Azaz yang juga tak bisa tidur.
Perjuangan Karnadi demi kesembuhan Azaz tak berhenti di RS Cicendo, ia kembali harus merogoh sakunya supaya bisa mengantarkan Azaz ke RS DR Salamun untuk dilakukan scan mata sebagai persyaratan yang diberikan RS Cicendo guna penanganan lebih lanjut.
Sambil menunggu hasil scan,diatas tikar lusuhnya yang dibawa dari Indramayu sorot mata Karnadi terlihat jelas memancarkan harapan diselingi keputusasaan akan kesembuhan Azaz ditengah makin menipisnya dompet.
“Apapun akan saya berikan demi kesembuhan mata Azaz,” ujar Karnadi dengan suara lirih.





