Berhenti Jadi Mucikari Pilih Jualan Angkringan

mucikari
Mak Temu sedang melayani pembeli. foto dok Tribun Jogja

JAKARTA – Menjadi mucikari selama 36 tahun dengan penghasilan jutaan rupiah per hari, tak membuat sesorang bergelimang harta. Hingga akhir 2016 salah satu mucikari berpengaruh di kota Jogjakarta ini memilih insyaf dan berjualan angkringan.

Siang itu jarum jam menunjukkan pukul 13.00 WIB. Suasana dua angkringan yang berada di sebelah selatan Terminal Giwangan itu masih tampak sepi. Namun disalah satu angkringan tersebut tampak wanita berusia 60 tahun tengah duduk menunggu pembeli.

Ialah Temu Asih mantan mucikari berpengaruh di kota Jogjakarta yang kini telah insyaf dan memilih berdagang angkringan. Bagi Temu Asih menjadi mucikari selama 36 tahun bukan merupakan hal yang “nikmat”, bahkan sebaliknya. Jauh dari pemikiran kebanyakan orang yang mengira jika mucikari hidup bergelimang harta.

Seperti dilansir dari Tribun Jogja, Rabu (09/11/16) Temu Asih merupakan mucikari di RW 9 Giwangan, Jogjakarta yang insyaf sebelum bulan Ramadan 2016 lalu. Selama ini, Temu Asih dikenal sebagai salah satu mucikari berpengaruh, sehingga dulu sempat diangkat sebagai wakil ketua Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Jogjakarta.

“Saya memang niat insyaf. Sudah tua, apalagi sudah punya anak cucu,” ucap Mak Temu, sapaan akrabnya saat disinggung mengenai alasan berhenti menjadi mucikari.

Mak Temu mengaku ia mulai usaha prostitusi sejak tahun 1970-an. Ketika itu, Mak Temu melanjutkan usaha orangtuanya yang mewarisi sebuah losmen di kawasan lokalisasi Pesanggrahan, Giwangan. Saat Pesanggrahan ditutup pada 1997, dia membuka rumah bordir di RW 9 Giwangan.

“Pendapatan dari menyewakan kamar dan menjajakkan PSK, per malamnya memang bisa mencapai jutaan. Tapi kalau saya pikir, pengeluarannya sampai dua kali lipat. Ibaratnya, pendapatan cuma Rp 100 ribu, tapi pengeluarannya bisa Rp 200 ribu,” jelasnya.

Sadar bahwa pendapatannya tak halal dan tak menuai keuntungan, Mak Temu akhirnya memilih untuk berhenti. Hingga akhirna ia menyampaikan niatnya tersebut kepada pengurus RT dan RW setempat.

“Awalnya saya dikasih modal usaha roti kering karena mau Lebaran. Sekarang membuka angkringan,” katanya.

Mak Temu pun memaparkan ketika berjualan angkringan ini, pendapatannya tidak pasti. Jika dalam kondisi ramai, penghasilan kotor per malam hanya Rp 170 ribu. Namun demikian, dia mengaku tidak berpikiran kembali menjadi mucikari.

“Kalau ada yang minta diantarkan (mencari PSK), saya pasti tidak mau dan beralasan takut wanita yang disediakan tidak sesuai selera,” ujarnya.

Sejauh ini jika Mak Temu berjumpa dengan wanita tuna susila, ia malah mengajaknya untuk bertobat lalu diarahkan ke dinas sosial untuk mengikuti pelatihan modal.

“Saya didiamkan, dikira saya ikut mempengaruhi PSK di Giwangan biar bertaubat. Padahal kalau ada yang bertaubat, itu keinginannya sendiri,” paparnya.

Sebelumnya, Ketua RW 9 Giwangan, Sarono mengatakan, mucikari yang tersisa di wilayahnya sebanyak 4 orang. Mucikari tersebut berada di RT 25 dan RW 27. Sarono beharap pemerintah bersedia turun tangan untuk ikut membuat 4 mucikari itu beralih profesi seperti yang dilakukan Mak Temu.

“Awalnya di sini ada 5 orang mucikari. Tetapi 1 orang sudah dientaskan dengan memberi usaha dan melunasi semua utang-utangnya. Jumlah uang yang dikeluarkan warga sekitar Rp 50 juta. Kami ingin Pemkot Jogjakarta juga begitu ke 4 mucikari sisanya,” tukas Sarono

Advertisement