BPBD: 566 Desa di Jatim Alami Kekeringan Kritis

Ilustrasi warga Cirebon yang kekeringan menerima bantuan air/ Radar Cirebon

KEDIRI – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, mengatakan, sejumlah daerah di Jatim mengalami kering kritis, hingga terdapat 24 kabupaten, 180 kecamatan dan 566 desa.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim Suban Wahyudiono mengatakan kering kritis dimaksudkan bahwa persediaan air per orang per hari kurang dari 10 liter, termasuk mereka mengambil air dengan lokasi cukup jauh hingga 3 kilometer dari rumah bahkan lebih.

Beberapa daerah yang kesulitan air bersih misalnya Sampang, hingga 67 desa yang kering kritis, Tuban 55 desa. Kabupaten lainnya adalah Pacitan, Ngawi, Lamongan, dan sejumlah daerah lain.

Menurut dia, kondisi daerah yang mengalami kering kritis karena faktor demografi. Mayoritas mereka tinggal di daerah dataran tinggi, sehingga saat kemarau air sulit didapat.

“Memang di pegunungan, dataran tinggi. Dari 556 desa, ada 199 desa yang tidak ada potensi air, sisanya ada. Yang tidak ada potensi air, di bor tidak bisa, sumber tidak ada. Misalnya di Mojokerto, harus ke Gunung Penanggungan (1.653 m dpl) itu 15 kilometer jauhnya,” kata dia.

Pihaknya menambahkan BPBD Provinsi Jatim koordinasi dengan BPBD di kota maupun kabupaten untuk keperluan pengiriman air. Hingga kini, sudah sekitar 11 ribu rit dengan isi 6 ribu liter per tangki telah didistribusikan ke warga yang kesulitan air bersih.

Proses distribusi air terus dilakukan hingga kebutuhan warga tercukupi dan hujan mulai datang. Dengan itu, masyarakat yang kekurangan air bersih bisa mencukupi kebutuhan untuk keperluan sehari-hari.

Ia juga mengingatkan saat kemarau selain ancaman kekeringan, juga rawan terjadi kebakaran hutan dan lahan. Bahkan, intensitas kejadian kebakaran juga cukup tinggi, dimana per satu pekan laporan yang masuk kebakaran di wilayah Jatim antara 20-23 kali.

“Bayangkan satu pekan 20-23 kali tapi itu bisa dipadamkan. Kalau kebakaran yang paling penting segera dipadamkan. Kebakaran hutan ini tidak kalah hebatnya. Jadi, kemarau ini bencana tidak tampak,” kata dia, dikutip Antara.

Advertisement