PALEMBANG – Untuk memaksimalkan pencegahan kebakaran hutan dan lahan, upaya modifikasi cuaca terus dilakukan di Sumatera Selatan, misalnya dengan menabur garam ke awan yang berpotensi hujan.
Antara melaporkan, Pelaksana Tugas Badan Nasional Penanggulangan Bencana Provinsi Sumatera Selatan M Iriansyah di Palembang, Sabtu (27/8/2016), mengatakan meski saat ini Sumsel telah melewati masa kritis tapi teknologi modifikasi cuaca (TMC) tetap dilakukan supaya pencegahan dini lebih maksimal.
“Kondisi ini juga didukung oleh cuaca karena sejak sepekan terakhir mulai banyak awan berpotensi hujan (cumulunimbus), berbeda dengan sebelumnya pada awal Agustus yang sulit dilaksanakan,” katanya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumatera Selatan Ishak Mekki membenarkan jika daerahnya telah melewati masa kritis ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). “Ini tergambar dari jumlah hot spot dalam lima hari terakhir yang hanya berkisar lima titik,” kata Ishak Mekki.
Ia mengatakan jumlah titik panas di Sumsel jauh menurun jika dibandingkan bulan yang sama tahun lalu yakni dari 764 menjadi hanya 45 pada Agustus 2016.
Kondisi ini dipengaruhi oleh cuaca di sebagian besar wilayah Sumsel yang tetap mengalami hujan meski sedang musim kemarau atau dikenal dengan kemarau basah. “Kondisi ini akan lebih baik lagi di September karena pada bulan itu akan lebih banyak hujan,” kata Ishak.
Namun ancaman tetap ada, karena daerah ini memiliki 1,4 juta hektare lahan gambut. Kerja sama antarlembaga terus ditingkatkan, mulai dari TNI, Polri, BPBD, perusahaan, dan pemerintah kabupaten/kota.
“Masa kritis sudah lewat, tapi bukan berarti melemahkan pengawasan. Masyarakat harus terus diingatkan bahwa tidak boleh membuka lahan dengan cara membakar,” kata dia.




