Delapan Migran Termasuk Enam Anak Tewas dalam Kontainer Pengangkut Daging di Libya

Ilustrasi

LIBYA – Delapan migran termasuk enam anak ditemukan tewas setelah kehabisan nafasdalam kontainer truk di pantai barat Libya.

Direktorat keamanan di kota Zuwarah mengatakan sebanyak 90 migran yang baru pulih dari kontainer pada hari Senin berada dalam kondisi kritis dan dibawa ke rumah sakit setempat untuk perawatan.

Zuwarah adalah salah satu titik di sepanjang garis pantai barat Libya di mana penyelundup dan pedagang membawa migran sebelum menempatkan mereka di atas kapal untuk mencoba menyeberang ke Eropa.

Para migran berasal dari berbagai negara sub-Sahara Afrika dan Arab, serta Pakistan dan Bangladesh.

Mereka telah dikunci di dalam sebuah wadah pendingin yang dirancang untuk mengangkut daging dan ikan yang ditemukan di luar Zuwarah, dekat dengan kompleks minyak dan gas Mellitah, sekitar 110 km dari ibu kota, Tripoli.

“Sebagai akibat dari lamanya waktu mereka tercekik, delapan di antara mereka meninggal termasuk enam anak-anak, seorang wanita dan seorang pria muda,” kata direktorat keamanan.

Hal ini mnejadi tragedi migran terbaru di Libya, di mana perdagangan manusia dan pelanggaran hukum telah berkembang sejak pemberontakan 2011 yang menggulingkan dan menewaskan pemimpin Libya Muammar Gaddafi.

Pemerintahan saingan yang berbasis di Libya timur dan barat bergantung pada milisi untuk menjaga ketertiban. Namun, beberapa kelompok bersenjata telah terlibat dalam perdagangan manusia.

Libya terus menjadi titik tolak utama bagi pencari suaka yang berusaha menyeberangi Laut Tengah untuk mencari perlindungan di Eropa.

Bulan lalu, juru bicara Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) Charlie Yaxley mencatat untuk tahun kelima berturut-turut “tonggak suram” dari 1.000 kematian migran di Mediterania telah dilintasi.

Menurut laporan tahun 2018 oleh Human Rights Watch, kapal-kapal penuh migran dan pencari suaka yang mencoba menyeberangi laut telah dibawa kembali ke Libya setelah dicegat oleh penjaga pantai Libya, yang dilatih oleh UE dan Italia. Setelah kembali, banyak yang dipukuli dan dilecehkan secara seksual dan menghadapi penculikan, pemerasan, kondisi penahanan yang keras dan kerja paksa.


Advertisement