Derita Tanpa Akhir Suku Rohingya

Pengungsi Rohingya bertebaran menjadi manusia perahu mencari tempat aman (kabar rakyat.com)

GELOMBANG kekerasan baru terhadap etnis minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine, Myanmar terulang lagi , dipicu penyerangan oleh kelompok milisiĀ  Tentara Penyelamat Rohingya Arakan (ARSA) pada sejumlah pos polisi dan tentara pekan lalu (26/8).

Sekitar 110 korban tewas termasuk aparat keamanan dan beragam etnis dalam peristiwa yang kemudian dijadikan dalih oleh satuan militer Myanmar melancarkan operasi ā€œsapu bersihā€ guna memburu ARSA, membakar rumah-rumah dan membantai warga Rohingya.

Tragedi kemanusiaan yang menimpa etnis Rohingya terus berlanjut, padahal pemerintah Myanmar selayaknya mampu mengatasi persoalan dalam negerinya dan juga betanggungjawab atas stabilitas kawasan sesuai kesepakatan antarnegara anggota ASEAN.

Ribuan warga Rohingya termasuk para lansia, perempuan dan anak-anakĀ  berusaha menghindar dari aksi brutal pasukan Myanmar bertahan di rawa-rawa sepanjang sisi Sungai Nar di tapal batas Banglades.

Mereka bertahan dari kedinginan dan kelaparan, bersembunyi dari kejaran pasukan Myanmar, sementara yang berhasil menyeberangi sungai ke wilayah Banglades diusir kembali oleh satuan pengawal perbatasan Banglades (BSB).

Kemlu Banglades hanya melontarkan keprihatinan mereka atas laporan adanya ribuan warga Rohingya di perbatasan negaranya di sepanjang Sungai Naf di wilayah Myanmar.

Pernyataan prihatin saja tentunya tidak cukup, apalagi satuanĀ BSB malah mengusir kembali ratusan pelarian Rohingya yang berupaya memasuki negara itu untuk menghindari perburuan tentara Myanmar.

Etnis Rohingya adalah kelompok Indo-Arya penghuni kawasan Rakhine,Ā Ā  Myanmar barat daya yang secara etno-linguistik berkaitan denganĀ  kelompok etnisĀ  di India dan Bangladesh, namun berbeda dengan penduduk Myanmar lainnya yang berasal dari Sino-Tibet.

Bangsa Rohingya menyebar di sejumlah negara di Asia, terbanyak di wilayah Rakhine, Myanmar (satu juta), Arab Saudi (400.000), kamp pengungsi Cox’s Bazaar Bangladesh (300.000), Pakistan (200.000), Thailand (100.000) dan Malaysia (28.000).

 

Beda kepercayaan

Mayoritas warga Myanmar yang memeluk agama Budha tidak mengakui dan tidak memberikan hak-hak politik terhadap etnis muslim Rohingya. Perbedaan agama juga ikut memperuncing pertentangan.

Masyarakat internasional juga mempertanyakan sikap abai Au San Suu Kyi, penyandang Hadiah Nobel Perdamaian 1991 yang dianggap sebagai salah satu ikon demokrasi dunia terhadap nasib dan penderitaan etnis Rohingya.

Sikap puteri mendiang pejuang kemerdekaan Myanmar,Ā Jenderal Aung San itu yang bergeming atas aksi represif rezim militer terhadap sekitar 1,2 juta etnisĀ  Rohingya di wilayah Arakan yang menyebabkan 1.000 korban tewas dan sekitar 320.000 lainnya melarikan diri sejak 2012.

Suu Kyi lebih suka mengecam kekerasan yang dilakukan kelompok militan ASRA, Ā namun tidak menggubris ā€œcasus belliā€ atau penyebab aksi-aksi mereka Ā yakni demi melindungi etnis Rohingya dari kebrutalan militer Myanmar.

Sejumlah analisis muncul terhadap perubahan sikap Suu Kyi, salah satunya mungkin karena ia mewarisi darah militer mendiang ayahnya atau memang ia tidak mampu mengajak rezim militer untuk mewujudkan program reformasi.

Sementara analis minoritas Kachin, Stella Naw dengan tajam mengritisi Suu Kyi karena menurut dia, sebagai pemimpin pilihan rakyat, ia selayaknya bertanggungjawab atas kegagalannya mengecam aksi militer terhadap etnis Rohingya.

Naw menyayangkan Suu Kyi yang telah berkorban banyak, baik diri mau pun keluarganya bagi rakyat Myanmar, namun kini malah teralienasi dari rakyat yang setia bahkan rela dipenjarakan untuk membelanya.

Sebagian berhasil mencapai kamp pengungsi di negara tetangganya, Banglades, dan ribuan lainnya menyabung nyawa, nekat melintasi lautan untuk mencari tempat aman di negara-negara Asia termasuk Indonesia.

Menlu RI Retno LP Marsudi dilaporkan akan segera berkunjung ke Rakhine dalam waktu dekat ini untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah Myanmar dan Banglades terkait kerjasama khususnya dalam penanganan pengungsi.

PBB dan masyarakat internasional, juga Indonesia di dalam kerangka ASEAN dan sebagai negara mayoritas pemeluk Islam di dunia perlu segera turun tangan mendesak rezim Myanmar untuk menuntaskanĀ isu Rohingya secara damai dan manusiawi. (AP/AFP/Reuters/NS)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement