BOGOR – Derap Perempuan Kreatif Indonesia Peduli Bangsa (DPKIPB) menyelenggarakan menggelar webinar membahas topik kegunaan, efektivitas, keamanan, dan ketersediaan vaksin COVID-19. Webinar tersebut mengundang dua narasumber yakni Prof Dr Ali Ghufron Mukti Rektor Universitas Trisaksi sekaligus Ketua Konsorsium Riset COVID-19 dan Dr drh Diah Iskandriati (Peneliti di Pusat Studi Satwa Primata – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PSSP – LPPM) IPB University.
“Banyak masyarakat yang ingin tahu terkait aman dan tidaknya vaksin produksi luar negeri. Di sisi lain kita juga mendengar bahwa Indonesia telah mampu membuat vaksin sendiri. Masyarakat ingin mendapat pencerahan terkait ketersediaan serta akses pada vaksin tersebut,” ujar Ketua DPKIPB, Prof Dr Aida Vitayala Hubeis.
Sementara, Prof Dr Dodik Ridho Nurrochmat, Wakil Rektor Bidang Kerjasama dan Sistem Informasi IPB University sekaligus Ketua Satgas COVID-19 IPB University dalam sambutannya menyampaikan bahwa IPB University telah melakukan skenario dalam menyambut kegiatan belajar mengajar secara offline.
“Ada tiga pertimbangan dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara offline. Pertama, pertimbangan asal daerah mahasiswa. Kedua, persiapan lingkungan kampus maupun tempat tinggal mahasiswa. Ketiga, pertimbangan risiko bagi dosen dan tenaga kependidikan. Sistem tracing juga akan diterapkan melalui aplikasi handphone,” papar Prof Dodik Ridho.
Pada kesempatan ini, Dr drh Diah Iskandriati menyampaikan per tanggal 6 Desember lalu di World Health Organization (WHO) sudah terdapat 52 kandidat vaksin COVID-19 dalam tahap uji klinis. Sebanyak 13 diantaranya sudah sampai tahap tiga. Terkait kriteria vaksin yang efektif, Dr Diah menyampaikan bahwa vaksin yang efektif harus aman, protektif untuk periode yang lama, memiliki kemampuan menginduksi antibodi yang dapat menetralisir virus, secara biologis stabil, mudah dalam aplikasi, dan murah dalam proses produksi.
Di samping itu, lanjutnya, seperti halnya vaksin lain, vaksin COVID-19 juga memiliki efek samping seperti demam ringan serta rasa nyeri atau kemerahan pada luka bekas jarum suntik. Ia juga mengatakan, upaya vaksinasi akan berdampak terhadap pandemi bergantung pada efektivitas dari vaksin dan proses vaksinasi, seberapa cepat vaksin diproduksi dan diperbanyak, serta berapa banyak orang yang divaksinasi.
“Setelah divaksin, bukan berarti protokol kesehatan dapat diabaikan. Hal itu juga menjadi faktor keberhasilan vaksinasi terhadap pandemi. Sehingga meskipun telah divaksin, kita tetap harus menerapkan 3M yakni memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak aman,” pungkas Dr Diah.




