Dunia Menanti Vaksin Covid-19

ilustrasi

KORBAN terpapar virus corona galur baru (SARS-CoV-2) atau dikenal Covid-19 terus berjatuhan, namun vaksin yang diperlukan untuk memerangi virus tersebut belum ditemukan, kemungkinan paling cepat setahun lagi.

Wabah Covid-19 berawal dari kota Wuhan, China, medio Desember lalu merebak begitu cepat dan masif, (sampai 9/6) telah menjangkiti 7.216.252 orang di 213 negara, 409.092 diantaranya meninggal, korban terpapar   terbanyak di AS (2.026.597, meninggal 113.061), disusul Brazil  (710.887, meninggal 37.312) dan  Rusia (485.253, meninggal 6.142).

Di Indonesia sendiri Covid 19 (sampai 9/6) telah menewaskan 1.923 orang dan memapar 19.739 orang dari 33.076 kasus yang terdeteksi, 11.414 diantaranya dinyatakan sembuh.

Walau relatif sedikit, korban Covid-19 di Indonesia dikhawatirkan melonjak akibat pelonggaran program PSBB demi menggerakkan  kembali roda-roda ekonomi yang terimbas protokol kesehatan di tengah pandemi.

Rendahnya disiplin warga mematuhi protokol kesehatan menuju tatanan normal baru, keterbatasan sarana dan prasarana transportasi sehingga memaksa warga berdesakan di stasiun KA komuter dan di atas kendaraan umum serta kecilnya rasio warga yang diambil specimennya membuat ancaman outbreak Covid-19 di depan mata.

Yang mencemaskan, walau sejumlah negara berlomba-lomba untuk menemukan vaksin anti Covid-19 sejauh ini belum ada yang berhasil, rata-rata baru sampai taraf uji lab, pencapaian tertinggi AS yang sudah sampai ke tahap uji klinis dengan memanfaatkan 45 relawan.

Rangkaian uji lab, juga menggunakan hewan dan terakhir uji klinis  pada manusia  harus dilakukan berulang-ulang agar dipastikan aman dan efektif  jika nantinya resmi digunakan bagi penyembuhan Covid-19.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, sampai awal Juni ini sudah ada 10 prototipe vaksin Covid-19 pada tahap uji klinis yang dikembangkan oleh perguruan tinggi dan swasta Inggeris, lembaga bioteknologi Beijing dan Institut Penyakit Alergi dan  Infeksi AS.

China yang cukup ambisius menciptakan vaksin Covid-19 juga menyadari prosesnya rumit dan perlu waktu sehingga mendorong kemitraan global serta berjanji, jika berhasil akan menjadikan vaksin Covid-19 milik bersama untuk dibagikan siapa saja yang membutuhkan.

Dari 10 bakal vaksin yang sedang diujicoba secara klinis, lima diantaranya dibuat China dan selain itu ada lagi 123 calon vaksin yang dikembangkan berbagai negara, juga aliansi seperti dilakukan Belanda, Jerman, Perancs dan Itali.

Sejauh ini pengobatan pasien Covid-19 dilakukan dengan mengobati  penyakit penyerta yang didiagnosa atau menggunakan obat avigan pelawan influenza, hydrochloroquinine anti malaria dan remdesivir untuk melawan infeksi virus ebola.

Berbagai cara dan obat diklaim melalui medsos yang bisa menjadi jalan pintas penyembuhan Covid-19 misalnya hanya dengan mengosumsi garam, membalur tubuh dengan minyak kayu putih atau mengosumsi tapai ubi kayu walau banyak juga yang meragukannya.

Keseriusan dan semangat kemitraan yang ditunjukkan masyarakat dunia untuk menemkan vaksin Covid-19 diharapkan mampu mengantar kemenangan umat manusia dalam perang melawan pandemi virus tersebut. (AFP/AP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement