Ekonomi Argentina Semakin terpuruk, Banyak Warga Terpaksa jadi Pemulung

Argentina di ambang krisis keuangan ditandai anjloknya nilai tukar peso sampai 53 persen terhadap dollar AS tahun ini dan tingginya suku bunga, hingga 60 persen.

ARGENTINA – Warga Argentina banyak yang menderita dan kesulitan akibat ekonomi negara yang terpuruk dan inflasi diprediksi mencapai 100 persen pada tahun ini.

Banyak warga mencari pendapatan tambahan, termasuk dengan menjadi pemulung. Misalnya saja seorang warga bernama Omar, yang mengaku terpaksa menghabiskan waktu 12 jam per hari di “pegunungan” sampah di Lujan untuk mencari kardus, plastik, dan besi yang bisa dijual.

“Pemasukan saya tidak lagi cukup,” kata Sergio Omar, kepada Reuters.

Dari hasil sampah daur ulang itu, Omar bisa mendapatkan uang sekitar 2.000 peso (Rp204 ribu) hingga 6.000 peso (Rp613 ribu).

Ia mengaku terpaksa karena harga pangan melonjak drastis dalam beberapa bulan terakhir, membuatnya kesulitan memberikan makan keluarganya. Omar sendiri memiliki lima anak.

Menurut Omar, kini juga semakin banyak pekerja datang ke tempat pembuangan sampah untuk mengumpulkan barang-barang yang dapat dijual.

Reuters melaporkan,  banyak laki-laki dan perempuan yang mencari pakaian layak pakai bahkan makanan di tumpukan sampah tersebut. Banyak pula tikus, anjing liar, dan burung pemakan bangkai di sekitar mereka.

Sementara itu, pendiri Klub Barter Lujan, Sandra Contreras, menuturkan beberapa warga mencoba melakukan barter untuk memenuhi pangan mereka. Ada yang menukar pakaian tak terpakai mereka dengan sekantong tepung atau pasta.

“Masyarakat sangat putus asa. Gaji mereka tidak cukup. Keadaan semakin buruk hari demi hari,” kata Contreras.

Sementara itu, Pablo Lopez (26), yang bekerja di pusat daur ulang kecil, mengatakan dampak dari kenaikan harga barang memang jelas terlihat.

“Inflasi ini gila. Anda bisa melihat di sini, dengan orang-orang yang datang bekerja, inflasi berdampak pada kami semua,” tuturnya.

Argentina diprediksi mengalami kenaikan harga barang tertinggi sejak periode hiperinflasi pada 1990-an.

Kenaikan harga pupuk dan impor gas di dunia akibat perang Rusia-Ukraina memperparah inflasi.

 

Advertisement