Euforia Mudik, Bisa Picu Lonjakan Covid-19

Sekitar 83,5 juta warga akan mudik menjelang Lebaran 1443H, 21,3 juta (26,8 persen) dengan mobil pribadi, 14,9 juta (18,7 persen) dengan sepeda motor. Patuhi prokes, Covid-19 belum berlalu.

ANTUSIASME para perantau untuk mudik Idul Fitri 1443H setelah absen selama dua kali lebaran di tengah pandemi Covid-19 sejak 2020 berisiko meningkatkan lagi penularan penyakit akibat virus itu.

Sejak rekor jumlah korban terpapar Covid-19 yang didominasi varian Omicron pada 16 Feb ’22 dengan  64.718 kasus dan rekor angka kematian saat didominasi varian Delta pada 27 Juli ’21 (2.069 orang), tren penyebaran Covi-19 terus turun dan saat ini dianggap sudah bergeser dari fase pandemik ke endemik.

Pada 8 April ’22 tercatat penambahan harian paparan Covid-19 sebanyak 1.755 kasus atau jauh lebh kecil dari 16 Feb. (64.718 kasus) dan 47 kematian atau jauh di bawah puncaknya pada 27 Juli ’21 (2.069 orang).

Selain kemungkinan pemunculan varian baru, lonjakan penyebaran Covid-19 berdasarkan pengalaman pada dua kali lebaran sebelumnya juga terjadi pasca mudik lebaran (1441H dan 1442H).

Yang mencemaskan, berdasarkan tiga kali survei yang dilakukan Batlibang Kementerian Perhubungan, animoa mudik para perantau dari kota-kota besar makin meningkat mendekati hari H-lebaran.

Dalam survei pertama yang digelar 14 – 18 Feb. ’22 jumlah calon pemudik diproyeksikan 55 juta orang, lalu pada survei kedua (9 -21 Maret) ’22 sebanyak 79,4 juta orang dan survei ke-3 (22 – 31 Maret) setelah Presiden Jokowi mengmumkan sejumlah kebijakan pelonggaran, jumlahnya 83,5 juta orang.

Khusus dari wilayah DKI Jakarta, calon pemudik naik 9,1 persen menjadi 14,3 juta orang.  Persyaratan untuk pemudik hanya mereka yang sudah dua kali divaksin dan vaksin penguat (booster).

Sekitar 23,1 juta pemudik diperkirakan menggnakan mobil pribadi (26,8 persen), 14,9 juta dengan sepeda motor (18, 7 persen), 12,9 juta dengan bus (16,3 persen), 9,6 juta dengan pesawat (12,1 persen), 7,2 juta KA (9,0 persen), 1,1 juta kapal laut (1,4 persen) dan 900-ribu dengan kapal penyeberangan (1,2 persen).

Selain pengamatan lebih ketat di titik-titik pemberangkatan, para pemudik juga perlu diawasi di destinasi atau kampung halaman, termasuk kepatuhan terhadap prokes 3T apalagi di tengah acara kumpul-kumpul sanak kerabat.

Selain pemerintah, para pemudik harus berdisiplin mematuhi prokes, demi keselamatan diri, keluarga, handai taulan dan orang lain.

Waspada, Covid-19 belum berakhir sepenuhnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement