Fenomena Lubang Raksasa di Maros

Femomena sinkhole (lubang raksasa) atau tanah ambles terjadi di persawahan warga di desa Lebbotengae, Kac. Cenrana, Kab, Maros, Sulawesi Selatan, Senin (22/12). Dua hari kemudian diameter lubang melebar menjadi 20 meter dengan kedalaman 50 meter.

SINKHOLE atau tanah ambles yang muncul secara misterius di Desa Lebbotengae, Kec. Cenrana, Maros, Sulawesi Selatan, semakin melebar dengan diameter kini sudah mencapai 20 meter dan kedalaman 50 meter.

Fenomena alam itu bermula diketahui oleh seorang warga desa, menemukan lubang di sawah miliknya, berdiameter 1,5 meter dan kedalaman sekitar setengah meter, Senin lalu (22/12) yang areanya terus melebar hingga Rabu (24/12).

Munculnya lubang raksasa atau tanah ambles itu cukup membuat panik warga setempat mengingat jaraknya hanya sekitar 500 meter dari kawasan permukinan terdekat.

Akibatnya, menurut Kepala Desa Lebbotengae, Suryanto Indra, warga yang memiliki sawah di sekitar lokasi lubang tidak berani turun ke sawah.

Sinkhole adalah lubang pada tanah yang terbentuk tiba-tiba akibat tekanan terhadap permukaan tanah pada saat lapisan di bawahnya melemah dan tak mampu menopang struktur lapisan di atasnya.

Sinkhole terjadi akibat proses alami, saat sub-permukaan batuan atau tanah larut dan membuat rongga bawah tanah. Peristiwa seperti ini sering terjadi jika batuan di bawah permukaan tanah berupa batu gamping (karst), dolomit, batuan karbonat, atau jenis batuan yang secara alami dihanyutkan sirkulasi air tanah.

Sinhhole biasanya terjadi di kawasan dengan formasi batu gamping atau limestone, penyebab utamanya adalah larutnya batuan sekitar karena pengaruh air dan terbentuk gua di bawah permukaan tanah.

Pakar Geologi yang juga menjabat Kapus Kebencanaan Universitas Hasannudin, Adi Maulana mengemukakan, fenomena sinkhole di kawasan Maros, 70 Km arah timur Makassar yang kaya batuan karst, (batu gamping) sedangkan di atasnya terdapat banyak menara karst yang mudah larut oleh air hujan.

Ia mengingatkan, wilayah membentang mulai dari Maros, Pangkajene dan Kep. Berru, Bone, Sinjai, Bulukumba, Selayar hingga Jeneponto rawan terjadinya sinhole, apalagi jika diatasnya sudah ada permukiman warga, infrastruktur atau lahan pertanian.

Sebagai upaya mitigasi, Adi menyarankan penutupan seluruh akses air permukaan di sekitar lubang agar tidak dipenuhi air, selain perlu dilakukan penyelidikan geologi secara detil disertai pemetaan bawah tanah guna melihat kondisi di bawah permukaan sekitar sinkhole.

Warga diharap tetap waspada dan semoga fenomena sinkhole ini tidak berlanjut ke kondisi lebih buruk lagi.

Advertisement