G. Ile Lewotolok Erupsi, Warga Mengungsi

Ilustrasi G. Ile Lewotolok (1.432M) di Kab. Lembata erupsi dengan mengeluarkan kolom asap tebal sampai 500M diatas puncak, membuat ribuan warga di dua kecamatan di kaki gunung mengungsi.

ERUPSI Gunung Ile Lewotolok di Kab. Lembata, Nusa Tenggara Timur, Minggu (29/11)  membuat statusnya dinaikkan dari Waspada ke Siaga, sementara puluhan ribu warga di dua kecamatan di kakai gunung mulai diungsikan ke tempat aman.

Wakil Bupati Lembata, Thomas Ola Langodai mengemukakan (29/11), warga di Kec.Ile Ape dan Ile Ape Timur yang berlokasi di kaki gunung sudah diungsikan ke ibukota Kab. Lembata, Lewolela karena kedua wilayah itu tertutup abu vulkanik.

Abu vulkanik yang ditumpahkan dari kawah G. Ile Lewotolok menutupi atap-atap rumah, tanaman pertanian dan sumber air serta  mengganggu aktivitas warga di luar rumah.

Gunung Lewatolok dengan tinggi 1.432 meter di atas permukaan laut juga disebut warga  dalam bahasa setempat (bahasa Lamaholot) sebagai G. Ile Ape atau gunung berapi, sedangkan Ile Lewatolok berarti gunung kampung-kampung berjatuhan (membawa musibah-red).

Letusan terdahsyat terjadi pada 1666 dan 1985 yang meluluhlantakkan P. Lembata dan pulau-pulau di sekitarnya, sedangkan pada erupsi Minggu lalu, tinggi kolom abu berwarna kelabu sampai hitam pekat membubung sampai 500 meter di atas puncak ke arah barat.

Sekitar 30.000 lebih pengungsi saat ini berada di rumah jabatan lama bupati Lembata dan sejumlah bangunan kantor pemerintah di sekitarnya dan baru Senin siang ini (30/11) rencananya akan dipindahkan ke tenda-tenda pengungsian.

Pemda setempat sudah mengirimkan bantuan berupa tenda-tenda, mie instant dan air mineral walau jumlahnya jauh dari yang dibutuhkan, dan mereka juga memerlukan selimut, peralatan mandi, air minum, makanan siap saji,  peralatan sanitasi serta makanan dan susu bayi.

 

 

Advertisement