Geliat Militer Jepang

Walau cuma disebut Pasukan Bela Diri, menurut catatan Global Firepower, militer Jepang masuk 5 besar terkuat di dunia, dilengkapi persenjataan canggih dan pasukannya sangat terlatih, sedangkan dari segi anggaran militer, berada di ranking ke-8 dunia.

WALAU cuma menyandang nama Pasukan Bela Diri (Japan Self Defence Forces – JSDF), AB Jepang  tidak bisa dipandang sebelah mata, karena faktanya, militer negara Matahari Terbit masuk 10 besar terkuat di dunia.

Dari sisi belanja militer 2021, ASDF dengan anggaran 49,7 miliar dollar AS (sekitar Rp714,8 triliun) menempati urutan ke-8 di bawah Amerika Serikat, China, India, Rusia, Perancis, Jerman dan Perancis. .

Sebagai perbandingan, anggaran militer AS, ranking ke-1 sebesar 738 miliar dollar (sekitar Rp10.616 triliun), China di peringkat ke-2 dengan  193,3 miliar dollar (Rp2.780 triliun) atau dibandingkan dengan RI yang berada di ranking ke-29 sebesar 9,2 miliar dollar (Rp132,3 triliun).

Dengan alasan, negaranya dikepung oleh pihak-pihak yang abai terhadap peraturan int’l terkait perdamaian dan stabilitas bersama, PM Jepang Fumio Kishida baru-baru ini merencanakan kenaikan dua kali lipat anggaran militernya pada 2023.

Gerak militer Jepang dibatasi sesuai konstitusinya pasca Perang Dunia II, walau setapak demi setapak, mulai terjadi perubahan, sejalan dengan ancaman pihak luar dan juga tuntutan peran lebih besar lagi menghadapi tantangan int’l.

Tentara Jepang yang semula tidak pernah dilibatkan dalam misi-misi int’l seperti pasukan perdamaian, mulai keluar dari sarangnya pada Perang Teluk, tahun ’90-an lalu walau sebatas pengiriman pasukan zeni untuk membangun sarana sanitasi yang hancur di Irak.

Kini sejalan dengan munculnya ancaman dari arah Laut China Timur dan Laut China Selatan, seperti yang disampaikan PM Kishida baru-baru ini, negaranya perlu meningkatkan kemampuan militernya.

Walau tetap menganut prinsip sebagai negara pasifis (cinta damai) yang dijalani sejak Pasca PDII, menurut Kishida, negaranya harus siap mempertahankan diri dari pihak-pihak yang agresif dan tidak mematuhi perdamaian dunia.

Walau secara eksplisit menyebutkan ancaman dari China, kekhawatiran Jepang beralasan mengingat di berbagai kesempatan, China menunjukkan niatnya merebut Taiwan kembali, begitu pula di arah timur, Rusia menginvasi Ukraina.

Ancaman yang juga di hadapan mata adalah Korut yang sering melakukan uci coba rudal balistik yang sebagian jatuh di perairan zona ekonomi ekslusif (ZEE) Jepang dan juga uji-uji coba nuklir.

 Peralatan Canggih

JSDF berkekuatan sekitar 250-ribu personil, walau kecil dibandingkan postur militer negara-negara besar sepert AS, Rusia, China dan India namun dilengkapi dengan alutsista canggih, baik buatan AS mau pun industri di dalam negerinya.

Matra Darat (JGDSF) yang berkekuatan 150-ribu personil a.l didukung 1.000 tank utama (MBT) termasuk buatannya sendiri yang bisa disejajarkan dengan tank-tank buatan negara Barat, 5.500 kendaraan lapis baja, 214 artilieri swagerak dan 480 meriam tarik serta 99 aneka peluncur rudal.

Sementara AU Jepang (JAFSDF) mengoperasikan 740 aneka pesawat, 330 diantaranya pesawat tempur termasuk 105 unit pesawat generasi ke-5 siluman F-35 Super Lightning, sejumlah F15 seri J/DJ Eagle (keduanya buatan AS) dan F-2 buatan patungan Mitsubishi dan Lokheed Martin, AS dan puluhan heli serang UH-60 Black Hawk dan pengangkut berat CH-47 Chinook.

Sedangkan AL Jepang (JNSDF) memiliki 154 kpal perang, dua diantaranya pengangkut helikopter, 36 perusak, 10 fregat 30 penyapu ranjau dan 22 kapal selam.

Perlombaan persenjataan tidak bisa dihindari, karena tiap negara menganut prinsip: “Si Vis Pacem Parabelum” atau  “Siapa yang cinta damai harus siap berperang. (AFP/ns)

 

 

 

 

 

Advertisement