Geliat Perdamaian di Yaman

Perang saudara di Yaman yang berkecamuk sejak 2014 telah menewaskan 377.000 orang, selain 10.200 anak-anak. Asa damai mulai muncul, setelah atas prakarsa PBB, kedua belah pihak yang bertikai mulai saling tukar-menukar tawanan (14/4).

YAMAN, negara di jazirah Arab paling selatan yang dilanda konflik sejak hampir sepuluh tahun lalu antara kelompok pemberontak bersama etnis Houthi yang didukung Iran dan rezim Abdurrabuh Mansur Hadi dukungan Arab Saudi, mulai melangkah ke meja perundingan.

AFP melaporkan, di tengah negosiasi antara delegasi Saudi dan Houthi yang masih berlangsung (14/4), dilakukan pertukaran tahanan kedua pihak yang bertikai  difasilitasi oleh Palang Merah Internasional (ICRC) .

Rezim pemerintah Yaman akan membebaskan 706 tahanan, sebaliknya, milisi Houthi akan melepaskan 118 tahanan terdiri dari warga negara Saudi dan Sudan yang berseberangan dengan mereka.

Salah satu tokoh yang akan dibebaskan Houthi adalah mantan menhan Yaman Mayjen Mahmud al-Subaili dan Mayjen Nasser Mansur Hadi, adik Presiden Abdurabuh Mansur Hadi yang saat ini berada dalam pengasingan di Saudi.

Sebanyak 322 tahanan dari kedua belah pihak dibebaskan pada putaran pertukaran tahanan pertama (14/4) yang digelar slama tiga hari. ICRC menerbangkan para tahanan dari ibu kota Sanaa yang dikuasai Houthi ke Aden yang dikuasai pemerintah dan sebaliknya.

Pembebasan tahanan bisa diwujudkan berkat butir kesepakatan yang dicapai dari perundingan antara kedua belah pihak yang digelar di Swiss Maret lalu, diperlancar lagi dengan rujuk antara Saudi dan Iran  yang berkonflik sejak beberapa tahun berkat mediasi China.

Konflik Yaman berawal pada 2014 saat kelompok pemberontak didukung milisi Houthi berhasil menggulingkan pemerintahan Mansur Hadi, namun pertempuran terus berkecamuk sampai hari ini.

PBB mencatat, perang saudara Yaman merupakan krisis kemanusiaan terburuk saat ini dimana diperkirakan menewaskan 377-ribu penduduk negara miskin tersebut tewas, belum termasuk 10.200 anak-anak baik akibat perang, wabah penyakit mau pun kelaparan.

Mayoritas korban (60 persen) tewas akibat kelaparan dan penyakit, terutama kolera yang menjangkiti 2,5 juta dari total 30 juta penduduk Yaman pada 2016.

PBB dalam keterangan resminya menilai, tragedi Sudan sangat buruk, mengingat 24,9 juta atau 80 persen penduduk hanya mengandalkan bantuan kemanusiaan hanya untuk bertahan hidup.

Langkah damai konflik Yaman, pembukaan kembali hubungan diplomatik antara Iran dan Saudi serta normalisasi hubungan sejumlah negara Arab (Bahrain, Sudan, Maroko dan UEA) dengan Israel pada 2020 diharapkan membuka lembaran baru di Timur Tengah yang puluhan tahun diwarnai konflik berkepanjangan.

Tinggal isu terkait pendudukan Israel di tanah Palestina yang sampai saat ini masih mengganjal dan belum tampak bisa dicarikan solusinya dalam waktu dekat.  (AFP/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement