
LEBIH 2.000 orang tewas dan 2.000 lainnya terluka akibat gempa berkekuatan 6,8 SR yang mengguncang wilayah barat daya Maroko termasuk kawasan wisata “Mutiara selatan” Marrakesh, Jumat pukul 23.00 waktu setempat (Sabtu,05.00 WIB).
Marrakes, salah satu provinsi di Maroko yang berada di kaki pegunungan Atlas dengan ibu kotanya Marrakesh, dihuni sekitar 450-ribu orang dikenal dengan Masjid Koutubia yang masuk situs warisan dunia UNESCO dengan Menara setinggi 69 meter yang dijuluki atap Marrakesh.
Jumlah korban diperkirakan terus meningkat mengingat masih banyak penduduk yang kehilangan anggota keluarganya akibat gempa yang epicentrumnya menurut Badan Geologi AS berada propinsi Al-Houz 71 Km dari Marrakesh di kedalaman 18,5 km.
Saksi mata menyebutkan, sejumlah bangunan ambruk dan Menara-menara masjid yang menjulang tinggi dan banyak terdapat di kawasan itu ambruk dan menimpa kendaraan yang lalu-lalang.
Warga yang tinggal di kota-kotra sekitarnya juga ikut panik, bergegas mengungsi karena cemas akan terjadi gempa susulan, sementara krban yang tewas kebanyakan berada di lokasi-lokasi terpencil di kawasan pegunungan.
Sejumlah rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya dilaporkan di kota Marrakesh dipadati korban gempa, sementara itu guncangan juga terjadi di sejumlah kota di sepanjang pesisir pantai yakni di Rabat, Casablanka dan Esaouira.
Pemantau gempa, Netblocks mencatat, gempa yang terjadi di Marrakesh kali ini adalah gempa terkuat yang pernah terjadi di Maroko sehingga menyebebkan terputusnya sambungan internet akibat listrik padam.
Gempa besar yang pernah melanda wilayah timur laut Maroko, Al Hoceima pada 2004 menewaskan paling tidak 628 orang dan 926 orang terluka, sementara gempa berkekuatan 7,3 SR yang melanda tetangganya , kawasan al Asnam, Aljazair pada 1980 yang menewaskan 2.500 orang dan 300-ribu orang kehilangan tempat tinggal.
Menimba kejadian gempa di Maroko tersebut, Indonesia yag berada di wilayah cincin api atau jalur gunung berapi aktif di sepanjang Samudera Pasifik harus terus melakukan mitigasi untuk mengurangi risiko bencana jika sewaktu-waktu menerpa.




