
IBU-ibu rumah tangga harus terus mengetatkan ikat pinggang akibat lonjakan harga pangan dunia sebagai imbas Perang Rusia dan tetangganya, Ukraina, juga melonjaknya permintaan domestik menjelang Idul Fitri 1443H.
Di dalam negeri, kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng sejak November tahun lalu belum teratasi, sehingga Presiden Jokowi pun mengambil langkah darurat untuk mengurangi beban masyarakat dengan menyalurkan Bantuan Langsung Tunai (BTL).
BTL bernilai Rp100-ribu per bulan dari April sampai Juni ’22 akan segera disalurkan melalui PT Pos Indonesia bagi 20,65 juta warga penerima Bantuan Pangan Non TUnai (BPNT) dan Program Keluarga Harapan (PKH) serta 2,5 juta pedagang makanan K-5.
Total bantuan senilai Rp300-ribu akan dibayarkan dimuka, April ini, diharapkan akan memenuhi kebutuhan minyak goreng per kepala sekitar empat liter per bulan atau 12 liter per tiga bulan.
Berbagai harga kebutuhan pokok, mulai dari sayur, daging pun merambat naik akibat naiknya permintaan di tengah Ramadhan dan menyongsong Idul Fitri 1443H serta imbas kenaikan harga BBM awal April lalu.
Sementara Badan Pangan dan Pertanian dunia (FAO) menyebutkan, perang Rusia dengan Ukraina ikut memicu harga pangan global sekitar 12 persen akibat tersendatnya pasokan dan melonjaknya harga minyak mentah global.
Gangguan dalam proses produksi dan distribusi, menurut FAO, memicu kenaikan harga pangan ke level tertingggi pada Maret lalu dan berdasarkan laporan yang dirilis Jumat (8/4) lalu, Indeks Harga Pangan rata-rata naik 159,3poin atau 12,6 persen.
Persentase kenaikan harga tertinggi sejak 1990, sedangka dibandinkan Maret 2021 terjadi lonjakan rata-rata 33,6 persen dan khususnya gandum dan mainyak nabati sangat membebani kelompok warga termiskin.
Anjloknya Daya Beli
Dibarengi krisis energi akibat Perang Rusia dengan Ukraina, menurut Dirjen FAO Qu Dongyu di markas FAO di Roma (8/4), kenaikan harga komoditas pangan ikut menurunkan daya beli warga di negara miskin.
Di pihak lain, para peniliti Institut Penelitian Kebijakan Pangan Int’l (IFPRI) mengemukakan, fluktuasi harga pangan global juga membuat petani kesulitan memutuskan apakah mereka akan terus berproduksi atau stop sementara.
Di dalam negeri, selain makin membebani kelompok rentan termasuk 74 juta pekerja non-formal bersama keluarganya, kenaikan harga-harga pangan dan energi juga bisa dijadikan “mesiu” oleh kelompok tertentu menyerang pemerintah.
Di masa-masa sulit ini, solusi yang cerdas perlu diambil pemerintah agar bangsa Indonesia cepat keluar dari krisis termasuk dengan menyiapkan berbagai program pengamaman (social safety net).
Sebaliknya, diminta agar pihak-pihak tertentu tidak sengaja memancing di air keruh, menambah ruwet situasi. (AP/Reuters)




