
TIDAK berlebihan jika Presiden Federasi Sepakbola Internasional (FIFA) Gianni Infantino menyebutkan, petaka yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang (1/10) sebagai hari gelap dunia persepakbolaan.
Sebanyak 125 penonton laga derbi antara Arema FC dan Persebaya, Surabaya meregang nyawa, 188 mengalami luka-luka, sebagian besar korban mengalami sesak nafas, patah atau dislokasi tulang saat berdesak-desakan turun dari tribun stadion akibat gas air mata yang ditembakkan polisi.
Kerusuhan justeru terjadi seusai laga derbi dimana tuan rumah Arema FC kalah di kandang sendiri dengan skor 2 : 3 untuk pertama kalinya sejak 23 tahun terakhir, sehingga supporter yang tidak terima kekalahan tim idolanya merangsek turun ke lapangan.
Para supporter dengan kalap berusaha mengejar pelatih dan pemain Arema FC sampai ke tempat ganti pakaian, sedangkan yang di luar stadion merusak dan membakar belasan kendaraan Polri dan juga milik pribadi yang diparkir di sekitar stadion.
Polisi yang kewalahan karena kalah dalam jumlah, mencoba mengurai kerumunan massa dengan menembakkan gas air mata yang karena tiupan angin malah menerpa para penonton di tribun selatan yang sedang berusaha turun, keluar dari pusat kerusuhan.
“Tragedi ini di luar nalar sebagai bencana olahraga yang mematikan dan membuat syok dunia sepakbola “ujar Presiden FIFA seraya menyampaikan doa dan simpati FIFA bagi para korban.
Penggunaan Gas Air Mata
Sejumlah hal perlu diusut misalnya penggunaan gas air mata dan senjata api oleh polisi yang sudah dilarang FIFA (pasal 19) untuk mengurai masa di arena sepakbola, sedangkan tiket yang terjual katanya hanya 25.000 lembar, faktanya jumlah penonton sampai 45.000 orang, melebihi kapasitas stadion.
Permintaan polisi agar pertandingan digelar pukul 15.00 ternyata tidak diindahkan, dan faktanya, pertandingan digelar pukul 20.00, kemungkinan untuk mengejar tayang “prime time” siaran televisi.
Tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang tak hanya membuat duka, bangsa dan persepakbolaan nasional terutama oang-orang yang kehilangan keluarganya, tetapi juga komunitas sepakbola dunia.
Pengelola Liga Spanyol, La Liga misalnya, memutuskan hening cipta sebelum tujuh pertandingan sisa digelar pekan ketujuh Liga Spanyol dan enam laga di pekan ke delapan Divisi Kedua negara itu, 4 – 6 Oktober.
Presiden Real Madrid Florentino Perez juga meminta ratusan anggota klub tersebut yang hadir pada rapat tahunan di Madrid, Minggu (2/10) mengheningkan cipta sebelum rapat dimulai.
Sejumlah klub seperti Manchester United, Liverpool, Manchester City, Barcelona dan Paris Saint-German menyampaikan ungkapan belasungkawa melalui medsos, begitu juga sejumlah bintang sepakbola seperti Sergio Ramos, Mezut Osil dan Wayne Rooney.
Dari jumlah korban, tragedi Stadion Kanjuruhan hanya kalah dari korban laga kesebelasan Argentina lawan Peru dalam babak penyisihan Piala Dunia lebih setengah abad lalu (24 Mei 1964) yang menewaskan 318 orang dan 500 orang luka-luka.
Terancam batal
Selain dihentikannya Liga Satu musim ini sampai selesai hasil pengusutan terkait tragedi maut di Stadion Kanjuruhan, posisi Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia Sepakbola U-20 tahun 2023 juga terancam dianulir FIFA.
Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa berjanji akan mengusut aparat TNI yang lalai dalam kejadian tersebut, sementara Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo telah memecat Kapolres Malang, Danyon, Danki dan Danton Brimob yang bertugas mengamankan laga serta memeriksa 28 personil polisi lainya atas dugaan pelanggaran etik.
Selain mengusut tuntas pihak-pihak yang bertanggungjawab atas tragedi di Malang, mulai dari panitia pelaksana, pengawas pertandingan dan aparat pengamanan.
Dalam jangka panjang, literasi dan edukasi bagi penonton dan supporter agar berlaku fair dan memahami peraturan perlu dilakukan.
“Jika tidak, ulah fanatisme membabi-buta berujung kebrutalan pendukung suatu tim, selain membuat laga sepakbola menjadi event yang mengerikan, juga membuat negara dan bangsa ini jadi cibiran”.
Tidak selayaknya di era now ini, kompetisi sepakbola yang mengedepankan sportivitas dan fairness serta adab menjadi lahan pembantaian!




