Hati-Hati! Memasak dengan Suhu Tinggi Bisa Picu Kanker

Ilustrasi masak. (Foto: iStock)

JAKARTA – Hasil penelitian yang dilakukan oleh National Cancer Institute menunjukkan bahwa memasak makanan dengan suhu tinggi dapat berdampak pada DNA makanan dan meningkatkan risiko terjadinya kanker.

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Medical Daily, memasak makanan dengan suhu yang tinggi menyebabkan kerusakan pada DNA makanan, yang berhubungan dengan peningkatan risiko terkena berbagai jenis kanker.

Ketika seseorang mengonsumsi makanan, DNA yang terkandung dalam makanan tersebut juga ikut terkonsumsi. Ketika makanan dimasak dengan suhu tinggi, molekul-molekul kecil terbentuk dan dapat berinteraksi dengan DNA yang sehat dalam tubuh saat makanan tersebut dicerna.

Para ahli mengungkapkan bahwa molekul-molekul kecil yang dihasilkan oleh panas memiliki sifat karsinogenik atau dapat merangsang pertumbuhan sel kanker. Meskipun demikian, apakah suhu tinggi benar-benar dapat merusak DNA makanan masih merupakan hipotesis yang perlu lebih diteliti.

“Penelitian kami menimbulkan banyak pertanyaan tentang risiko kesehatan jangka panjang yang belum banyak dijelajahi, namun, mungkin signifikan, dari mengonsumsi makanan yang dipanggang, digoreng, atau disiapkan dengan suhu tinggi,” kata Eric Kool, seorang peneliti yang juga penulis dalam penelitian tersebut.

Untuk menguji dampak suhu tinggi terhadap DNA makanan, sebuah tim peneliti dari Stanford University, National Institute of Standards and Technology, University of Maryland, dan Colorado State University melakukan percobaan dengan memasak daging babi giling, daging sapi giling, dan kentang menggunakan dua metode yang berbeda.

Metode pertama, daging direbus dalam air mendidih selama 15 menit pada suhu 100 derajat Celsius. Metode kedua, daging dipanggang dalam oven yang sangat panas selama 20 menit pada suhu 220 derajat Celsius.

Setelah proses memasak daging, para peneliti memeriksa DNA makanan tersebut dan menemukan bahwa semua jenis makanan yang diuji mengalami kerusakan pada DNA saat dimasak, terutama pada suhu yang sangat tinggi.

Kerusakan DNA memiliki potensi untuk menyebabkan perubahan pada gen seseorang. Perubahan gen tersebut dapat mengakibatkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali di dalam tubuh, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kanker.

Selain itu, para peneliti juga melakukan eksperimen pada tikus dengan menyuntikkan sel-sel yang dibentuk di laboratorium dan memberi makan tikus dengan makanan yang mengandung DNA yang rusak akibat panas.

Mereka menemukan bahwa sel-sel tersebut menyerap DNA yang rusak, yang mengakibatkan kerusakan DNA dalam sel. Tikus percobaan tersebut mengalami kerusakan DNA pada sel-sel yang melapisi usus kecil setelah mengonsumsi makanan tersebut.

“Kami telah membuktikan bahwa memasak dengan suhu tinggi dapat merusak DNA dalam makanan dan menemukan bahwa konsumsi DNA tersebut dapat menjadi sumber risiko genetik. Temuan ini benar-benar dapat mengubah pandangan kita tentang cara mempersiapkan dan memilih makanan,” ungkap Kool.

Namun, peneliti masih perlu melakukan banyak penelitian lebih lanjut untuk melihat apakah makanan yang dimasak dengan suhu tinggi juga memiliki pengaruh terhadap DNA manusia.

“Studi kami menimbulkan banyak pertanyaan tentang risiko kesehatan jangka panjang dari makanan yang dipanggang, digoreng, atau dimasak dengan suhu tinggi, yang sebelumnya belum banyak diteliti, namun, dapat menjadi substansial,” tuturnya.

Sumber: Antara

Advertisement